Pada satu kesempatan, kamu pasti pernah ditanya oleh teman chatting, "Kamu nggak sissy, kan?" demi memastikan orang yang akan diajaknya kencan tidak membuatnya il-feel. Sambil tersenyum sinis, kamu pun menjawab dengan singkat pertanyaan tersebut dengan, "Nope!". Di kesempatan yang lain, salah seorang temanmu merasa terganggu dengan perilaku be-your-self-mu ketika berkunjung ke rumahnya dan bertemu dengan orang tuanya sehingga dia pun berpesan, "Jaim dunk." Dengan mata melotot kamu pun menjawab, "Ya, ya, ya!" Di kesempatan yang lain lagi, pacarmu pernah memberi ultimatum "Jangan ngondek!" ketika kalian jalan berdua di muka umum. Meski dongkol karena merasa dikekang, kamu pun menimpali ultimatum tersebut dengan "Siap Bos!"
Kaum gay (meski tidak semua seperti itu), mau tidak mau tidak bisa dilepaskan dari stigma ngondek, sissy, serta berpenampilan lady-like. Ketika melihat seorang laki-laki berjalan dengan gemulainya dan ketika tersandung atau benda yang semula dipegang di tangannya terjatuh lantas ia pun spontan latah, umum akan langsung berkesimpulan bahwa ia adalah gay. Tentu saja, ini adalah sebuah sudut pandang yang kurang benar kalau disebut salah terlalu berlebihan mengingat yang berpenampilan "Laki banget" juga tidak bisa lepas dari kecurigaan apakah dia gay atau tidak.
Sebenarnya, mudah saja bagi seorang gay untuk berpenampilan manly. Dia hanya cukup mengurangi penggunaan kata "Fabulous" yang diikuti gerakan tangan tertentu ketika ia mengapresiasi sesuatu, menghilangkan histeria berlebihan, menyedikitkan berbicara tersenyum binal, mengenakan out-fit (misal jaket gombrong) atau memilih hair-cut (misal potongan cepak) yang laki banget, serta tidak berada dalam satu komunitas ngondeknya. And voila! Sang gay sissy pun tampil manly layaknya lelaki kebanyakan.
Namun demikian, ada satu hal yang perlu dicatat. Larangan ngondek adalah sebuah siksaan paling kejam bagi seorang gay. Ini sama seperti hukuman dengan cara mencabuti satu per satu kuku kaki dan tangan, sengatan listrik bertegangan tinggi, hukum gantung di depan umum, ataupun hukum cambuk hingga ratusan kali. Terdengar berlebihan? Well, what can I say. Homo memang selalu demikian.
Saturday, June 27, 2009
Friday, June 26, 2009
LEFT UNSAID
"In the perfect world, we have to say everything we knew and so other people knew it too. Sadly, we live in the real (not perfect one) world. There're so many thing we knew and we have to keep it to our self."
Setiap kali mendengar pemberitaan artis yang diduga penyuka sesama jenis, perasaan penulis bercampur aduk antara lega karena praduganya ternyata benar, geram karena sang pembawa acara menimpali berita tersebut dengan raut muka nyinyir, serta sebal karena sang artis mati-matian membela diri dari segala tuduhan tersebut.
Begini beritanya.
Seorang pedangdut pendatang baru yang tengah melejit namanya, akhir-akhir ini diberitakan sebagai penyuka sesama jenis. Wajahnya yang imut (meski ditumbuhi jambang), suaranya yang merdu (tidak garang seperti lelaki kebanyakan), pembawaannya yang kalem, serta kegemarannya menyaksikan pertunjukan "Princess On Ice" menjadi semacam indikasi yang menguatkan pemberitaan tersebut. Apa kemudian yang dikatakan sang bintang manakala dimintai klarifikasi? "Ah, itu resiko menjadi seorang publik figur.", demikian jawabnya singkat.
Seorang artis sinetron yang kadang juga didaulat melantunkan lagu dangdut, ikut terseret kasus penggelapan dana. Tidak hanya itu, sang artis digosipkan mempunyai hubungan "dekat" dengan sang penggelap dana. Hal ini diketahui melalui sepucuk surat dan puluhan SMS mesra mereka berdua yang dibeberkan kepada media. Konon, dana yang digelapkan masuk pula ke rekening sang artis sehingga yang bersangkutan pun ikut dijadikan saksi dalam persidangan. Ketika ditanya apa hubungan dengan sang penggelap dana, sang artis berkata bahwa hubungan mereka sekadar relasi kerja. Namun apa mau dikata, gosip sudah terlanjur menyebar dan karenanya tawaran job bagi sang artis menjadi turun. Mangkel dengan ulah media, sang artis melakukan aksi boikot media yang belakangan ia sesali karena ia tidak bisa hidup tanpa pemberitaan media. Untuk menepis kabar miring tentang dirinya, sang artis pun kemudian muncul di media dengan menggandeng seorang wanita yang diakui sebagai pacarnya. Ketika ditanya mengapa baru sekarang dikenalkan, sang artis berkata bahwa sang pacar tengah sibuk mondar-mandir ke luar negeri dalam rangka kerja. Ketika ditanya keseriusannya (melanjurkan hubungan ke janjang pernikahan, red), sang artis tersenyum ramah sambil berkata do'akan saja.
Beberapa lembar foto mesra dua artis pria menghebohkan media. Dalam foto tersebut, keduanya tengah asik berpelukan, bahkan berciuman. Tidak hanya keduanya dikabarkan sebagai lelaki homoseksual tapi juga media mansinyalir keduanya telah menikah di Belanda. Ketika di tanya kepada yang bersangkutan, bakat acting keduanya berperan sangat besar. Dengan santai, secara terpisah, keduanya berkata bahwa itu bukan foto mereka. "Itu pasti hasil rekayasa orang yang gak ada kerja. Buat apa juga kita meriburkannya."
Selanjutnya apa? Bukti apa lagi yang harus dimunculkan untuk membuat para pemburu berita puas dengan praduga tak bersalahnya yang dengan demikian akan membuat sang artis tidak bisa berkutik lagi dan akhirnya mengakui dirinya gay? Apakah diperlukan hadirnya video yang berisi adegan ranjang salah seorang artis sinetron dengan pelaku kriminal yang dituduh sebagai jagal? Sebenarnya, tanpa penyataan "Ya." yang keluar dari mulut artis yang bersangkutan, kita sudah dapat menyimpulkan kebenaran berita tersebut.
Well, maybe things better left unsaid. Not because it's not true but abvious.
Setiap kali mendengar pemberitaan artis yang diduga penyuka sesama jenis, perasaan penulis bercampur aduk antara lega karena praduganya ternyata benar, geram karena sang pembawa acara menimpali berita tersebut dengan raut muka nyinyir, serta sebal karena sang artis mati-matian membela diri dari segala tuduhan tersebut.
Begini beritanya.
Seorang pedangdut pendatang baru yang tengah melejit namanya, akhir-akhir ini diberitakan sebagai penyuka sesama jenis. Wajahnya yang imut (meski ditumbuhi jambang), suaranya yang merdu (tidak garang seperti lelaki kebanyakan), pembawaannya yang kalem, serta kegemarannya menyaksikan pertunjukan "Princess On Ice" menjadi semacam indikasi yang menguatkan pemberitaan tersebut. Apa kemudian yang dikatakan sang bintang manakala dimintai klarifikasi? "Ah, itu resiko menjadi seorang publik figur.", demikian jawabnya singkat.
Seorang artis sinetron yang kadang juga didaulat melantunkan lagu dangdut, ikut terseret kasus penggelapan dana. Tidak hanya itu, sang artis digosipkan mempunyai hubungan "dekat" dengan sang penggelap dana. Hal ini diketahui melalui sepucuk surat dan puluhan SMS mesra mereka berdua yang dibeberkan kepada media. Konon, dana yang digelapkan masuk pula ke rekening sang artis sehingga yang bersangkutan pun ikut dijadikan saksi dalam persidangan. Ketika ditanya apa hubungan dengan sang penggelap dana, sang artis berkata bahwa hubungan mereka sekadar relasi kerja. Namun apa mau dikata, gosip sudah terlanjur menyebar dan karenanya tawaran job bagi sang artis menjadi turun. Mangkel dengan ulah media, sang artis melakukan aksi boikot media yang belakangan ia sesali karena ia tidak bisa hidup tanpa pemberitaan media. Untuk menepis kabar miring tentang dirinya, sang artis pun kemudian muncul di media dengan menggandeng seorang wanita yang diakui sebagai pacarnya. Ketika ditanya mengapa baru sekarang dikenalkan, sang artis berkata bahwa sang pacar tengah sibuk mondar-mandir ke luar negeri dalam rangka kerja. Ketika ditanya keseriusannya (melanjurkan hubungan ke janjang pernikahan, red), sang artis tersenyum ramah sambil berkata do'akan saja.
Beberapa lembar foto mesra dua artis pria menghebohkan media. Dalam foto tersebut, keduanya tengah asik berpelukan, bahkan berciuman. Tidak hanya keduanya dikabarkan sebagai lelaki homoseksual tapi juga media mansinyalir keduanya telah menikah di Belanda. Ketika di tanya kepada yang bersangkutan, bakat acting keduanya berperan sangat besar. Dengan santai, secara terpisah, keduanya berkata bahwa itu bukan foto mereka. "Itu pasti hasil rekayasa orang yang gak ada kerja. Buat apa juga kita meriburkannya."
Selanjutnya apa? Bukti apa lagi yang harus dimunculkan untuk membuat para pemburu berita puas dengan praduga tak bersalahnya yang dengan demikian akan membuat sang artis tidak bisa berkutik lagi dan akhirnya mengakui dirinya gay? Apakah diperlukan hadirnya video yang berisi adegan ranjang salah seorang artis sinetron dengan pelaku kriminal yang dituduh sebagai jagal? Sebenarnya, tanpa penyataan "Ya." yang keluar dari mulut artis yang bersangkutan, kita sudah dapat menyimpulkan kebenaran berita tersebut.
Well, maybe things better left unsaid. Not because it's not true but abvious.
Thursday, June 25, 2009
MERDEKA
Dalam terminologi gay, kata "merdeka" diartikan sebagai penyataan diri tentang preferensi (homo) seksual kepada masyarakat umum. Istilah Inggrisnya coming-out. Memakai kata merdeka mungkin dikarenakan menyimpan rahasia sebagai seorang gay dinilai sebagai sebuah "penjajahan". Ya, kaum homo "terjajah" oleh pendapat hetero yang mengharuskan dia mencintai atau melakukan seks dengan lawan jenis. Pernahkah terlintas dalam benak kaum hetero itu betapa tersiksanya hidup dalam kebohongan? Karenanya, kata "merdeka" dipandang tepat sebagai simbol pembebasan diri, lepas dari kebohongan dan keterkungkungan.
Kalau kaum homo ditanya "Apakah Anda ingin merdeka?", maka sebagian besar jawabannya adalah "Ya." Akan tetapi kalau mereka ditanya "Mengapa Anda tidak segera memerdekakan diri?", maka jawabannya akan beragam. Ada yang beranggapan bahwa hal tersebut tidak perlu mengingat kita tinggal di dunia timur yang masih sangat menabukan homoseksualitas. Ada yang beralasan untuk apa menambah masalah sementara yang ada saja belum bisa kita selesaikan. Dan ada pula yang berpendapat bahwa selama tidak tertangkap basah (misal: orang tua melihat kita tengah bermesraan dengan seorang lelaki dengan mata kepala mereka sendiri), maka kita tidak perlu mengelauarkan statement merdeka.
Sampai saat ini, masih terjadi perdebatann mengenai perlu dan tidaknya seorang gay (di Indonesia, khususnya) merdeka. Mereka yang berpendapat perlu biasanya dikarenakan ketidakmauan hidup berlama-lama dalam kebohongan. Menurut mereka, hidup hanya satu kali dan terlalu disayangkan kalau kesempatan satu kali tersebut diisi dengan kehobongan. Bukankah kita wajib menjadi diri sendiri dan orang lain mempunyai hak untuk mengetahui siapa diri kita sebenarnya?
Bagi mereka yang berpendapat tidak perlu merdeka biasanya dilandasi atas dasar keengganan menjadi pusat sorotan. Dengan menyatakan diri sebagai gay, maka secara otomatis akan membuat hidup kita berada di pusat sorotan lampu suar. Setiap gerak-gerik kita akan diawasi dan bahkan dicurigai. Meski kita telah berbuat kebaikan, umum akan senantiasa menganggap yang telah kita lakukan adalah keburukan dikarenakan preferensi seksual kita yang dipandang buruk di mata mereka. Bukankah dengan demikian kita seperti terlepas dari satu permasalahan namun demikian tertimpa lagi satu permasalahan, bahkan lebih berat?
Dan dengan demikian, perdebatan ini tidak akan kunjung usai. Masing-masing pihak memiliki argumen yang sama kuat dan masuk akal. Hasil pilihan (akapah mau merdeka atau tidak), tidak akan membuat pemilihnya keluar sebagai pemenang atau pun sebaliknya. Mengapa? Berbicara kemerdekaan adalah berkenaan dengan keinginan bukan kebutuhan. Semua gay, tentu saja, ingin hidup merdeka. Namun demikian, tidak semua gay membutuhkan kemerdakaan yang sudah menjadi hak-nya.
PS: Penulis terkadang tidak habis pikir dengan rekan-rekan blogger yang berani menyuarakan problematika gay namun demikian mereka memunculkan foto (di data pribadi) yang bukan gambar wajahnya. What's the point? Kalau kalian tidak bisa merdeka dalam dunia nyata, paling tidak kita bisa melakukannya di dunia maya bukan? So gays, let's go coming out on blog.
Kalau kaum homo ditanya "Apakah Anda ingin merdeka?", maka sebagian besar jawabannya adalah "Ya." Akan tetapi kalau mereka ditanya "Mengapa Anda tidak segera memerdekakan diri?", maka jawabannya akan beragam. Ada yang beranggapan bahwa hal tersebut tidak perlu mengingat kita tinggal di dunia timur yang masih sangat menabukan homoseksualitas. Ada yang beralasan untuk apa menambah masalah sementara yang ada saja belum bisa kita selesaikan. Dan ada pula yang berpendapat bahwa selama tidak tertangkap basah (misal: orang tua melihat kita tengah bermesraan dengan seorang lelaki dengan mata kepala mereka sendiri), maka kita tidak perlu mengelauarkan statement merdeka.
Sampai saat ini, masih terjadi perdebatann mengenai perlu dan tidaknya seorang gay (di Indonesia, khususnya) merdeka. Mereka yang berpendapat perlu biasanya dikarenakan ketidakmauan hidup berlama-lama dalam kebohongan. Menurut mereka, hidup hanya satu kali dan terlalu disayangkan kalau kesempatan satu kali tersebut diisi dengan kehobongan. Bukankah kita wajib menjadi diri sendiri dan orang lain mempunyai hak untuk mengetahui siapa diri kita sebenarnya?
Bagi mereka yang berpendapat tidak perlu merdeka biasanya dilandasi atas dasar keengganan menjadi pusat sorotan. Dengan menyatakan diri sebagai gay, maka secara otomatis akan membuat hidup kita berada di pusat sorotan lampu suar. Setiap gerak-gerik kita akan diawasi dan bahkan dicurigai. Meski kita telah berbuat kebaikan, umum akan senantiasa menganggap yang telah kita lakukan adalah keburukan dikarenakan preferensi seksual kita yang dipandang buruk di mata mereka. Bukankah dengan demikian kita seperti terlepas dari satu permasalahan namun demikian tertimpa lagi satu permasalahan, bahkan lebih berat?
Dan dengan demikian, perdebatan ini tidak akan kunjung usai. Masing-masing pihak memiliki argumen yang sama kuat dan masuk akal. Hasil pilihan (akapah mau merdeka atau tidak), tidak akan membuat pemilihnya keluar sebagai pemenang atau pun sebaliknya. Mengapa? Berbicara kemerdekaan adalah berkenaan dengan keinginan bukan kebutuhan. Semua gay, tentu saja, ingin hidup merdeka. Namun demikian, tidak semua gay membutuhkan kemerdakaan yang sudah menjadi hak-nya.
PS: Penulis terkadang tidak habis pikir dengan rekan-rekan blogger yang berani menyuarakan problematika gay namun demikian mereka memunculkan foto (di data pribadi) yang bukan gambar wajahnya. What's the point? Kalau kalian tidak bisa merdeka dalam dunia nyata, paling tidak kita bisa melakukannya di dunia maya bukan? So gays, let's go coming out on blog.
Tuesday, June 16, 2009
SAVE SEX
Apa yang ada di kepala kamu ketika mendengar frase save-sex? Penggunaan kondom dan setia pada satu pasangan adalah dua dari sekian banyak gambaran umum tentang seks-aman. Bukan bermaksud menihilkan arti penggunaan kondom dan kesetiaan pada satu pasangan (sebagai tindakan preventif penularan berbagai jenis penyakin menular seksual), sepertinya seks aman membutuhkan lebih dari dua hal tersebut di atas. Tidak percaya? We’ll see…
Misal
Suatu saat kamu sedang berdua di tempat tidur dengan pasangan-kencan-semalam-mu. Di awali dengan basa-basi singkat yang kemudian dilanjutkan dengan duduk berdekatan dan bersentuhan, keadaan pun semakin memanas. Yang terjadi kemudian sudah hampir dapat dipastikan. Tiba-tiba HP miliknya berbunyi. Aksi panas yang tengah berlangsung pun terpaksa harus jeda karena dia harus mengangkat telepon. “Ya, sayang…?”, sapanya pada orang diseberang. Tanpa perlu banyak menduga, kita pun tahu bahwa yang menelpon adalah pacarnya. “Aku lagi nganterin Mama belanja.”, terdengar ia berbohong dengan sangan professional. “Ya, nanti aku telepon lagi, ya? Bye.”, pembicaraan pun berakhir dan berdua kalian lanjutkan aksi yang sempat tertunda.
Di sela-sela aksi tersebut, sebuah (atau mungkin lebih) pertanyaan terselip di otakmu. “What? He’s got a boyfriend? What if his boyfriend knew about these?” Pertanyaan tersebut hanya sanggup berada di otakmu selama dua menit pertama karena di menit ketiga dan selanjutnya otakmu sudah sibuk mengolah rangsang seksual yang datang bertubi-tubi. Setelah ejakulasi dan pikiran kembali jernih, kamu pun kembali berpikir bahwa yang telah kamu lakukan adalah sebuah kesalahan yang dapat menyakitkan hari orang lain. Lebih parah lagi kalau hal tersebut diketahui pacar teman-kencan-semalam dan dia melabrakmu. Apa yang akan kamu katakan?
Mengantisipasi hal tersebut, malaikat kecil dalam hatimu berkata, “Makanya, lain kali kalau mendapatkan teman kencan, tanyakan apakah dia suah memiliki pacar atau belum. Kalau jawabannya sudah maka seharusnya kamu menolak ajakannya.” Namun demikian, iblis merah di hatimu tidak mau kalah, “Ah, siapa yang peduli dia suah memiliki pacar atau belum. Toh ini tidak terdengar seperti kalian akan melangsungkan pernikahan, bukan?”
Atau…
Suatu saat kamu mendapatkan teman-kencan-semalam seperti yang kamu idam-idamkan selama ini: tinggi, hitam, cepak, berjenggot, dan tentu saja Mr. P nya berukuran jumbo. Ketika kalian melakukannya, kau pun dibuat kehabisan napas mengimbangi permainan liarnya. Setelah hampir 2 jam, semua baru selesai. Entah disengaja atau tidak, sang teman-kencan-semalam mengucup keningmu dan berkata, “Terima kasih, ya. Kamu hebat di ranjang.” yang membuat hatimu berbunga dan benih-benih cinta pun kemudian tumbuh. Sebelum berpisah, dia berjanji akan datang lagi.
Keesokan harinya, kamu pun mengirim SMS menanyakan kabarnya. Tidak ada jawaban. Berselang dua hari, kamu pun kembali mengirim SMS yang juga tidak dibalas. Ketika kau mencoba menelponnya, suara di seberang malah bertanya, “Ini siapa?” Kamu pun sibuk mengingatkannya dan setelah dia ingat, dia hanya berkata “Oh, ya…” dengan datar. Ketika ditanya “Kapan mau ke tempatku lagi.” dia menjawab “Nanti diatur lagi.” Kamu pun kecewa dan berjanji tidak akan pernah lagi menghubunginya.
Tiga minggu kemudia dia menghubungimu dengan mengirim SMS “Lagi horny euy. ML, yuk!” Tentu saja kamu senang dia menghubungimu lagi. Tapi ketika membaca SMSnya, jelaslah bahwa yang diinginkannya hanyalah seks sehingga kamu pun harus membunuh benih cinta yang telah terlanjur ada. Ketika kemudian kamu pun melakukan seks dengannya untuk kedua, ketiga, keempat, dan kesekian kalinya, hatimu terluka merasa diri hanya sebagai pelampiasan birahi semata.
Pertanyaanya, masihkah kamu berfikir dapat melakukan seks dengan aman? Apakah seks yang aman benar-benar ada? Masihkah sebuah perselingkuhan (meski ketika ML kita menggunakan kondom) dapat dikatagorikan sebagai save-sex? Kalau kondom dapat mencegah kita dari tertular penyakit kelamin, alat kontrasepsi apa yang dapat menghindarkan kita dari luka hati?
Well, sometimes we need to be on danger to make our life more exiting, huh?
Misal
Suatu saat kamu sedang berdua di tempat tidur dengan pasangan-kencan-semalam-mu. Di awali dengan basa-basi singkat yang kemudian dilanjutkan dengan duduk berdekatan dan bersentuhan, keadaan pun semakin memanas. Yang terjadi kemudian sudah hampir dapat dipastikan. Tiba-tiba HP miliknya berbunyi. Aksi panas yang tengah berlangsung pun terpaksa harus jeda karena dia harus mengangkat telepon. “Ya, sayang…?”, sapanya pada orang diseberang. Tanpa perlu banyak menduga, kita pun tahu bahwa yang menelpon adalah pacarnya. “Aku lagi nganterin Mama belanja.”, terdengar ia berbohong dengan sangan professional. “Ya, nanti aku telepon lagi, ya? Bye.”, pembicaraan pun berakhir dan berdua kalian lanjutkan aksi yang sempat tertunda.
Di sela-sela aksi tersebut, sebuah (atau mungkin lebih) pertanyaan terselip di otakmu. “What? He’s got a boyfriend? What if his boyfriend knew about these?” Pertanyaan tersebut hanya sanggup berada di otakmu selama dua menit pertama karena di menit ketiga dan selanjutnya otakmu sudah sibuk mengolah rangsang seksual yang datang bertubi-tubi. Setelah ejakulasi dan pikiran kembali jernih, kamu pun kembali berpikir bahwa yang telah kamu lakukan adalah sebuah kesalahan yang dapat menyakitkan hari orang lain. Lebih parah lagi kalau hal tersebut diketahui pacar teman-kencan-semalam dan dia melabrakmu. Apa yang akan kamu katakan?
Mengantisipasi hal tersebut, malaikat kecil dalam hatimu berkata, “Makanya, lain kali kalau mendapatkan teman kencan, tanyakan apakah dia suah memiliki pacar atau belum. Kalau jawabannya sudah maka seharusnya kamu menolak ajakannya.” Namun demikian, iblis merah di hatimu tidak mau kalah, “Ah, siapa yang peduli dia suah memiliki pacar atau belum. Toh ini tidak terdengar seperti kalian akan melangsungkan pernikahan, bukan?”
Atau…
Suatu saat kamu mendapatkan teman-kencan-semalam seperti yang kamu idam-idamkan selama ini: tinggi, hitam, cepak, berjenggot, dan tentu saja Mr. P nya berukuran jumbo. Ketika kalian melakukannya, kau pun dibuat kehabisan napas mengimbangi permainan liarnya. Setelah hampir 2 jam, semua baru selesai. Entah disengaja atau tidak, sang teman-kencan-semalam mengucup keningmu dan berkata, “Terima kasih, ya. Kamu hebat di ranjang.” yang membuat hatimu berbunga dan benih-benih cinta pun kemudian tumbuh. Sebelum berpisah, dia berjanji akan datang lagi.
Keesokan harinya, kamu pun mengirim SMS menanyakan kabarnya. Tidak ada jawaban. Berselang dua hari, kamu pun kembali mengirim SMS yang juga tidak dibalas. Ketika kau mencoba menelponnya, suara di seberang malah bertanya, “Ini siapa?” Kamu pun sibuk mengingatkannya dan setelah dia ingat, dia hanya berkata “Oh, ya…” dengan datar. Ketika ditanya “Kapan mau ke tempatku lagi.” dia menjawab “Nanti diatur lagi.” Kamu pun kecewa dan berjanji tidak akan pernah lagi menghubunginya.
Tiga minggu kemudia dia menghubungimu dengan mengirim SMS “Lagi horny euy. ML, yuk!” Tentu saja kamu senang dia menghubungimu lagi. Tapi ketika membaca SMSnya, jelaslah bahwa yang diinginkannya hanyalah seks sehingga kamu pun harus membunuh benih cinta yang telah terlanjur ada. Ketika kemudian kamu pun melakukan seks dengannya untuk kedua, ketiga, keempat, dan kesekian kalinya, hatimu terluka merasa diri hanya sebagai pelampiasan birahi semata.
Pertanyaanya, masihkah kamu berfikir dapat melakukan seks dengan aman? Apakah seks yang aman benar-benar ada? Masihkah sebuah perselingkuhan (meski ketika ML kita menggunakan kondom) dapat dikatagorikan sebagai save-sex? Kalau kondom dapat mencegah kita dari tertular penyakit kelamin, alat kontrasepsi apa yang dapat menghindarkan kita dari luka hati?
Well, sometimes we need to be on danger to make our life more exiting, huh?
Monday, June 15, 2009
SIAPA MENYUSUL?
Adalah Adam Lambert sang runner-up mega-reality show American Idol season 8 yang mengaku bahwa dirinya adalah penyuka sesama jenis. Tidak hanya itu, dalam salah salah satu sesi wawancara untuk majalah Rolling Stone dia menjelaskan bahwa dirinya telah tinggal satu rumah selama 8 tahun dengan kekasih prianya. Secara blak-blakan dia menjelaskan, kalau selama ini dia tidak membahas prefernsi seksualnya itu bukan berarti dia ingin menutup-nutupi jati dirinya. Semua ia lakukan hanya untuk menghindari kontroversi yang mungkin terjadi mengingat masyarakat (Amerika sekalipun) kerap menganggap homoseksualitas sebagai isu sensitivf.
Sebelum Lambert, David Archuletta (yang juga merupakan runner-up American Idol di season 7) juga mengakui bahwa dirinya gay. Ketika ditanya apakah dia tidak takut dengan anggapan masyarakat dan akan sangat mungkin itu berpengaruh pada penjualan albumnya, dengan cerdas dia menjawab, “Selama karya yang kita buat adalah sesuatu yang bagus maka masyarakat akan tetap membelinya tanpa peduli siapa (gay ataupun straight) yang membuat karya tersebut.” What a cool argument.
Tentu saja, hal tersebut (seorang musisi mengaku bahwa dirinya adalah seorang gay) bukan merupakan barang baru. Sebelum Lambert dan Archuleta, senior pendahulunya sudah terlebih dahulu eksis di dunia musik sambil menyandang predikat gay. Sebuah predikat yang oleh sebagian besar gay disembunyikan rapat-rapat dikarenakan berbagai alasan. Sebut saja Elton John dan George Michael bisa dianggap “embah” penyanyi gay. Dua nama besar tersebut di atas layak disebut sebagai pahlawan kaum gay karena telah mempertaruhkan nama besarnya sebagai penyanyi melalui keberanian mereka menyatakan bahwa mereka penyuka sesama jenis. Pada masanya, mengaku diri sebagai gay adalah sebuah keputusan tersulit mengingat pandangan masyarakat waktu itu masih sangat picik terhadap kaum homoseksual.
Bukan untuk membandingkan. Keadaan serupa (tidak akan atau belum?) pernah terjadi dengan musisi dalam negeri. Tentu saja, secara kasat mata, kaum gay Indinesia dapat menilai penyanyi atau musisi yang menyukai sesami jenis. Meski mereka menutup-nutupi jati diri dengan menggandeng pacar perempuan, hal tersebut tidak lebih dari dagelan konyol di mata para gay. Ketika suatu saat mereka tertangkap kamera bermesraan dengan pasangan prianya, mati-matian mereka akan mengingkarinya. Lagi, ini hanya akan dipandang sebagai dagelan konyol yang menggelikan. Ingat, semakin Anda mengingkari diri Anda gay, maka semakin terlihat seperti gay lah Anda di mata masyarakat. Saran dari penulis bagi artis-artis Indonesia, kalau memang Anda tidak mau terbuka mengenai jati diri Anda sebagai gay, hadapilah praduga masyarakat dengan sikap kalem dan jangan melakukan penolakan berlebihan.
Jujur, penulis sangat menghargai keberanian para public-figure yang berani mengakui dirinya gay. You go gays! Untuk Adam Lambert, penulis tidak sabar menunggu release album perdananya and sure I’ll have it. Semoga melalui album tersebut Lambert juga menyuarakan romantisme cinta sejenis.
Sebelum Lambert, David Archuletta (yang juga merupakan runner-up American Idol di season 7) juga mengakui bahwa dirinya gay. Ketika ditanya apakah dia tidak takut dengan anggapan masyarakat dan akan sangat mungkin itu berpengaruh pada penjualan albumnya, dengan cerdas dia menjawab, “Selama karya yang kita buat adalah sesuatu yang bagus maka masyarakat akan tetap membelinya tanpa peduli siapa (gay ataupun straight) yang membuat karya tersebut.” What a cool argument.
Tentu saja, hal tersebut (seorang musisi mengaku bahwa dirinya adalah seorang gay) bukan merupakan barang baru. Sebelum Lambert dan Archuleta, senior pendahulunya sudah terlebih dahulu eksis di dunia musik sambil menyandang predikat gay. Sebuah predikat yang oleh sebagian besar gay disembunyikan rapat-rapat dikarenakan berbagai alasan. Sebut saja Elton John dan George Michael bisa dianggap “embah” penyanyi gay. Dua nama besar tersebut di atas layak disebut sebagai pahlawan kaum gay karena telah mempertaruhkan nama besarnya sebagai penyanyi melalui keberanian mereka menyatakan bahwa mereka penyuka sesama jenis. Pada masanya, mengaku diri sebagai gay adalah sebuah keputusan tersulit mengingat pandangan masyarakat waktu itu masih sangat picik terhadap kaum homoseksual.
Bukan untuk membandingkan. Keadaan serupa (tidak akan atau belum?) pernah terjadi dengan musisi dalam negeri. Tentu saja, secara kasat mata, kaum gay Indinesia dapat menilai penyanyi atau musisi yang menyukai sesami jenis. Meski mereka menutup-nutupi jati diri dengan menggandeng pacar perempuan, hal tersebut tidak lebih dari dagelan konyol di mata para gay. Ketika suatu saat mereka tertangkap kamera bermesraan dengan pasangan prianya, mati-matian mereka akan mengingkarinya. Lagi, ini hanya akan dipandang sebagai dagelan konyol yang menggelikan. Ingat, semakin Anda mengingkari diri Anda gay, maka semakin terlihat seperti gay lah Anda di mata masyarakat. Saran dari penulis bagi artis-artis Indonesia, kalau memang Anda tidak mau terbuka mengenai jati diri Anda sebagai gay, hadapilah praduga masyarakat dengan sikap kalem dan jangan melakukan penolakan berlebihan.
Jujur, penulis sangat menghargai keberanian para public-figure yang berani mengakui dirinya gay. You go gays! Untuk Adam Lambert, penulis tidak sabar menunggu release album perdananya and sure I’ll have it. Semoga melalui album tersebut Lambert juga menyuarakan romantisme cinta sejenis.
Thursday, June 11, 2009
HURT SO GOOD
Ini pertanyaan untuk para bottom. Pernahkah ketika sedang penetrasi, pasangan top-mu bertanya, “Sakit, nggak?” demi melihat raut mukamu meringis? Atau, pernahkah kamu menyuruh pasangan seks agar menghentakmu tidak terlalu keras dan sebagai respon dia bertanya, “Sakit?”. Atau, pernahkan partner seks-mu tiba-tiba berhenti melancarkan aksinya ketika mendengar desahan tertahan-mu dan berkata, “Sakit ya, sayang?”?
Kabar baiknya, semua bottom pasti pernah berada pada kondisi tersebut di atas dan kabar buruknya kebanyakan bottom tidak tahu harus berkata apa untuk menjawab pertanyaan tersebut di atas. Ya, ketika penetrasi, seorang bottom tidak dapat dengan segera menjawab pertanyaan “Sakit, nggak?” karena di satu sisi dia merasakan sakit di daerah rectumnya (terlebih ketika mendapat partner seks dengan ukuran penis di atas rata-rata) tapi pada saat bersamaan muncul pula sensasi nikmat yang memang ia cari selama ini.
Bagi para bottom, mengakui bahwa ia mengalami kesakitan ketika penetrasi adalah sebuah aib tersendiri sebagaimana para top yang menganggap aib jika mengalami ejakulasi dini atau memiliki penis dengan ukuran minimalis. Mereka takut nanti disebut sebagai bottom amatir. Terlebih ketika proses penetrasi menyebabkan luka pada dinding atau mulut rectum sehingga menyebabkan pendarahan. Ini adalalah accident yang teramat sangat memalukan. Mereka pun kemudian memilih tutup mulut.
Adapun para top kadang tidak memahami kondisi tersebut. Dia merasa telah menjadi top yang baik dengan menanyakan pertanyaan seperti disebut di awal artikel. Ketika dilihatnya sang bottom hanya meringis tersenyum maka hal tersebut diterjemahkan sebagai undangan untuk “menghajarnya” lebih keras lagi. Sebagian top akan merasa bangga ketika bottomnya kewalahan mengimbangi permainan seksnya karena dengan demikain dialah yang akan keluar sebagai pemenang ronde seks kali ini.
Stop! It’s not a competition. Not even close. Sedikit saran bagi para top. Ketika pasangan bottom-mu meminta agar melakukan seks dengan pelan dan hati-hati, lakukanlah. Ketika pasangan bottom-mu meminta posisi seks yang lebih nyaman baginya, lakukanlah. Dan ketika pasangan bottom-mu meminta berhenti sejenak untuk memberinya kesempatan menyesuaikan diri, lakukanlah. Ya, lakukanlah tanpa harus banyak bertanya. Toh setelah beberapa saat (setelah ia merasa nyaman) sang bottom akan mempersilahkanmu melakukan semuanya.
Kembali ke permasalahan awal, rasa nikmat dan sakit yang hadir hampir bersamaan. Ini adalah dilema para bottom. Dibilang sakit tapi nyatanya ada sensasi nikmat. Dan dibilang nikmat tapi memang kadang terasa sakit. Apa kata atau frase yang dapat menggambarkan kondisi tersebut di atas? Hhmmm… Penulis teringat line dialog salah satu film bokep gay. Dalam film tersebut, salah satu pemerannya bertanya pada pasangan seksnya, “Hurt so good, isn’t it?” Yeah… Sepertinya itulah istilah yang tepat untuk kondisi tersebut di atas. Hurt so good. So… good!
Kabar baiknya, semua bottom pasti pernah berada pada kondisi tersebut di atas dan kabar buruknya kebanyakan bottom tidak tahu harus berkata apa untuk menjawab pertanyaan tersebut di atas. Ya, ketika penetrasi, seorang bottom tidak dapat dengan segera menjawab pertanyaan “Sakit, nggak?” karena di satu sisi dia merasakan sakit di daerah rectumnya (terlebih ketika mendapat partner seks dengan ukuran penis di atas rata-rata) tapi pada saat bersamaan muncul pula sensasi nikmat yang memang ia cari selama ini.
Bagi para bottom, mengakui bahwa ia mengalami kesakitan ketika penetrasi adalah sebuah aib tersendiri sebagaimana para top yang menganggap aib jika mengalami ejakulasi dini atau memiliki penis dengan ukuran minimalis. Mereka takut nanti disebut sebagai bottom amatir. Terlebih ketika proses penetrasi menyebabkan luka pada dinding atau mulut rectum sehingga menyebabkan pendarahan. Ini adalalah accident yang teramat sangat memalukan. Mereka pun kemudian memilih tutup mulut.
Adapun para top kadang tidak memahami kondisi tersebut. Dia merasa telah menjadi top yang baik dengan menanyakan pertanyaan seperti disebut di awal artikel. Ketika dilihatnya sang bottom hanya meringis tersenyum maka hal tersebut diterjemahkan sebagai undangan untuk “menghajarnya” lebih keras lagi. Sebagian top akan merasa bangga ketika bottomnya kewalahan mengimbangi permainan seksnya karena dengan demikain dialah yang akan keluar sebagai pemenang ronde seks kali ini.
Stop! It’s not a competition. Not even close. Sedikit saran bagi para top. Ketika pasangan bottom-mu meminta agar melakukan seks dengan pelan dan hati-hati, lakukanlah. Ketika pasangan bottom-mu meminta posisi seks yang lebih nyaman baginya, lakukanlah. Dan ketika pasangan bottom-mu meminta berhenti sejenak untuk memberinya kesempatan menyesuaikan diri, lakukanlah. Ya, lakukanlah tanpa harus banyak bertanya. Toh setelah beberapa saat (setelah ia merasa nyaman) sang bottom akan mempersilahkanmu melakukan semuanya.
Kembali ke permasalahan awal, rasa nikmat dan sakit yang hadir hampir bersamaan. Ini adalah dilema para bottom. Dibilang sakit tapi nyatanya ada sensasi nikmat. Dan dibilang nikmat tapi memang kadang terasa sakit. Apa kata atau frase yang dapat menggambarkan kondisi tersebut di atas? Hhmmm… Penulis teringat line dialog salah satu film bokep gay. Dalam film tersebut, salah satu pemerannya bertanya pada pasangan seksnya, “Hurt so good, isn’t it?” Yeah… Sepertinya itulah istilah yang tepat untuk kondisi tersebut di atas. Hurt so good. So… good!
Monday, June 01, 2009
ILUSI SEKSUAL
Dalam salah satu episode serial "Sex and The City" dikisahkan Charlotte memiliki teman seniman yang menciptakan karya seni berupa foto-foto pria tampan dan maskulin yang ternyata model foto tersebut adalah seorang wanita. Ketika ditanya mengapa dia menciptakan karya seni semacam itu, sang seniman berkata, "Jenis kelamin adalah ilusi. Dalam diri diri setiap wanita terdapat sisi maskulin dan demikian pula sebaliknya. Wanita dapat berperan atau terlihat seperti laki-laki demikian pulas sebaliknya. Adalah sebuah kepuasan tersendiri bagi saya untuk dapat memunculkan sisi maskulin dalam diri seorang wanita melalui karya seni ini." Sang seniman berhasil. Saat pertama melihat foto-foto hasil karya sang seniman, Carry CS. tidak mengira sama sekali bahwa sosok laki-laki dalam foto yang mereka pelototi sebenarnya adalah seorang perempuan. Stanford (the one and only gay on the group) yang terkesima oleh penampilan laki-laki (padahal perempuan) dalam foto itu pun berseloroh, "Oh my God. I think I'm a lesbian..." yang ditimpali tawa cekikikan para lajang pertengahan tiga puluhan itu.
Pertanyaannya: Kalau gender atau jenis kelamin bisa disamarkan dapat dikatagorikan sebagai sebuah ilusi, maka apakah tidak mungkin preferensi seksual pun bisa dikenakan hukum serupa? Kecenderungan seks adalah ilusi. Ketika saat ini Anda menikmati seks dengan perempuan, well jangan dulu terlalu yakin Anda adalah seorang straight sampai Anda pernah mengalami seks dengan laki-laki. Demikian pula sebaliknya. Kalau Anda diberi suguhan seks (oral seks, misalnya) dengan mengesampingkan siapa (laki-laki atau pun perempuan) yang memberikan suguhan tersebut, apakah Anda masih akan yakin dengan preferensi seksual Anda?
Sebuah reality show di Amrik sono yang diberi nama "Baitbus" dapat mewakili penjabaran teori ini. Dalam reality show tersebut digambarkan crew (terdiri dari host, cameraman, driver, umpan seorang wanita cantik, serta seorang gay) berkeliling kota untuk mencari mangsa yaitu pemuda usia belia yang mau diajak bereksperimen dengan melakukan seks di dalam mini van tersebut. Skenario lengkap acara tersebut seperti ini. Seorang pemuda yang dipilih secara acak yang ditemui di pinggir jalan untuk melakukan seks dengan wanita cantik dalam van. Pada pemuda yang berkenan, mereka menawarkan sejumlah uang sebagai tanda terima kasih yang tentu saja itu merupakan tipuan belaka karena setelah semua selesai, sang korban akan ditinggal begitu saja di pinggir jalan. Setelah sang pemuda setuju, dia dibawa masuk ke dalam van dan diajak berkeliling. Setelah basa-basi beberapa saat, sang perempuan cantik yang dijadikan umpan pun mulai beraksi dengan merayu sang pemuda untuk menggunakan penutup mata untuk mendapatkan service oral seks darinya. Tanpa pikir panjang, pemuda horny ini pun setuju. Maka dimulailah aksi seks ini. Pada mulanya, memang sang perempuan yang memberikan service oral seks. Selanjutnya, giliran sang laki-laki gay yang beraksi dan sang perempuan hanya memberikan efek suara saja sehingga seolah-olah service oral tersebut darinya.
Setelah cukup lama, penutup mata sang pemuda pun dibuka dan dia terkejut alang kepalang ketika didapatinya service oral yang tengah ia nikmati tersebut diberikan oleh seorang laki-laki. Insiden terperanjat dan menendang pun terjadi. Tidak terima mendapat oral seks dari seorang laki-laki, sang pemuda tanggung itu pun mencak-mencak menyumpahi sang homo. Di sinilah kemudian sang host menengahi, menyuruh sang pemuda untuk calm down, serta memberikan penjelasan (yang dibuat-buat, tentu saja)bahwa ini adala sebuah metoda penelitian yang sedang mereka kerjakan. Mereka ingin meneliti rekasi kaum hetero ketika pertama kali melakukan seks dengan seorang homo. Pada awalnya, sang pemuda menolak untuk melanjutkan aksi tersebut ke tingkat selanjutnya (baca, anal seks), namun dengan berbagai bujuk dan rayu serta iming-iming tambahan uang yang akan dia terima, sang pemuda pun mengiyakan dan terjadilah adegan seorang straight melakukan seks dengan laki-laki homo.
Berkaitan dengan hal ini, seorang teman pernah mendapatkan teman kencan dari dunia maya yang mengaku straight. Namun demikian, ketika diajak melakukan seks, dengan malu-malu sang lelaki straight pun mengiyakan hal tersebut. Yang terjadi kemudian sudah hampir dapat dipastikan. Sang laki-laki straight menikmati seks tersebut dan beberapa hari kemudian meminta hal serupa meski dia menolak menyebut dirinya homoseksual. Well, kalau sudah begini, lantas masih adakah batasan antara homo dan tidak homo? Apakah sudah saatnya sekarang kita berkesimpulan bahwa preferensi seksual hanyalah ilusi?
Pertanyaannya: Kalau gender atau jenis kelamin bisa disamarkan dapat dikatagorikan sebagai sebuah ilusi, maka apakah tidak mungkin preferensi seksual pun bisa dikenakan hukum serupa? Kecenderungan seks adalah ilusi. Ketika saat ini Anda menikmati seks dengan perempuan, well jangan dulu terlalu yakin Anda adalah seorang straight sampai Anda pernah mengalami seks dengan laki-laki. Demikian pula sebaliknya. Kalau Anda diberi suguhan seks (oral seks, misalnya) dengan mengesampingkan siapa (laki-laki atau pun perempuan) yang memberikan suguhan tersebut, apakah Anda masih akan yakin dengan preferensi seksual Anda?
Sebuah reality show di Amrik sono yang diberi nama "Baitbus" dapat mewakili penjabaran teori ini. Dalam reality show tersebut digambarkan crew (terdiri dari host, cameraman, driver, umpan seorang wanita cantik, serta seorang gay) berkeliling kota untuk mencari mangsa yaitu pemuda usia belia yang mau diajak bereksperimen dengan melakukan seks di dalam mini van tersebut. Skenario lengkap acara tersebut seperti ini. Seorang pemuda yang dipilih secara acak yang ditemui di pinggir jalan untuk melakukan seks dengan wanita cantik dalam van. Pada pemuda yang berkenan, mereka menawarkan sejumlah uang sebagai tanda terima kasih yang tentu saja itu merupakan tipuan belaka karena setelah semua selesai, sang korban akan ditinggal begitu saja di pinggir jalan. Setelah sang pemuda setuju, dia dibawa masuk ke dalam van dan diajak berkeliling. Setelah basa-basi beberapa saat, sang perempuan cantik yang dijadikan umpan pun mulai beraksi dengan merayu sang pemuda untuk menggunakan penutup mata untuk mendapatkan service oral seks darinya. Tanpa pikir panjang, pemuda horny ini pun setuju. Maka dimulailah aksi seks ini. Pada mulanya, memang sang perempuan yang memberikan service oral seks. Selanjutnya, giliran sang laki-laki gay yang beraksi dan sang perempuan hanya memberikan efek suara saja sehingga seolah-olah service oral tersebut darinya.
Setelah cukup lama, penutup mata sang pemuda pun dibuka dan dia terkejut alang kepalang ketika didapatinya service oral yang tengah ia nikmati tersebut diberikan oleh seorang laki-laki. Insiden terperanjat dan menendang pun terjadi. Tidak terima mendapat oral seks dari seorang laki-laki, sang pemuda tanggung itu pun mencak-mencak menyumpahi sang homo. Di sinilah kemudian sang host menengahi, menyuruh sang pemuda untuk calm down, serta memberikan penjelasan (yang dibuat-buat, tentu saja)bahwa ini adala sebuah metoda penelitian yang sedang mereka kerjakan. Mereka ingin meneliti rekasi kaum hetero ketika pertama kali melakukan seks dengan seorang homo. Pada awalnya, sang pemuda menolak untuk melanjutkan aksi tersebut ke tingkat selanjutnya (baca, anal seks), namun dengan berbagai bujuk dan rayu serta iming-iming tambahan uang yang akan dia terima, sang pemuda pun mengiyakan dan terjadilah adegan seorang straight melakukan seks dengan laki-laki homo.
Berkaitan dengan hal ini, seorang teman pernah mendapatkan teman kencan dari dunia maya yang mengaku straight. Namun demikian, ketika diajak melakukan seks, dengan malu-malu sang lelaki straight pun mengiyakan hal tersebut. Yang terjadi kemudian sudah hampir dapat dipastikan. Sang laki-laki straight menikmati seks tersebut dan beberapa hari kemudian meminta hal serupa meski dia menolak menyebut dirinya homoseksual. Well, kalau sudah begini, lantas masih adakah batasan antara homo dan tidak homo? Apakah sudah saatnya sekarang kita berkesimpulan bahwa preferensi seksual hanyalah ilusi?
Subscribe to:
Posts (Atom)
