Sunday, July 26, 2009

PUBLIC PROPERTIES

Public properties atau barang keperluan untuk masyarakat umum dapat berupa telepon, rambu lalu lintas, tempat sampah, bangku dan lampu taman kota, serta moda transportasi. Semua fasilitas tersebut memang disediakan oleh pemerintah untuk melayani keperluan umum. Siapa saja berhak memanfaatkan dengan gratis atau kalaupun harus mengeluarkan uang, masyarakat membayar dengan harga murah untuk untuk menikmati fasilitas tersebut. Ya, namanya juga fasilitas umum.

Dalam kehidupan seksual kaum gay, kita juga mengenal istilah "Public Properties", dalam bentuknya yang berbeda tentu saja. Setiap gay berhak mengaksesnya dengan mudah tanpa harus mengeluarkan sejumlah uang. Bukan hanya itu, si empunya properti publik ini merasa bertanggung jawab atas kepuasan masyarakat (well, I mean gay) umum yang menggunakan pelayanannya. Karenanya, dia akan merasa senang apabila banyak orang memanfaatkan fasilitas yang ia sediakan. Lantas, apakah Gay's Public Properties tersebut?

Pernahkah kamu menemui seorang gay yang tidak canggung melakukan seks dengan siapa saja? Ritual chatting untuk mendapatkan kencan ia lakukan hampir tiap hari. Tidak ada kriteria khusus mengenai laki-laki yang bisa tidur dengannya, siapapun. Tidak heran sex-record-nya mencakup hampir semua laki-laki yang ada di kota domisilinya. Komitmennya dengan seorang pacar tidak menghalanginya untuk melakukan seks dengah banyak orang terlebih lagi ketika ia berstatus jomblo. Inilah kemudian yang dinamakan properti publik. Jika dia seorang bottom, maka kita akan menyebut bokongnya sebagai "Bokong Umum" dan jika ia seorang top, maka kita akan menyebut penisnya sebagai "Penis Umum".

Apakah ini pujian atau hinaan? Well, selalu ada dua sisi dalam sekeping mata uang. Gelar sebagai public properties bisa bermakna pujian untuk menunjukkan eksistensinya dalam pergaulan gay. Siapa sih yang tidak kenal gay X dengan jaringan seksya yang luas serta jam terbang seks yang yang sudah sangat tinggi. Ini akan membuatnya terlihat sebagai the living legend yang karenanya semua gay akan terobsesi untuk bisa menidurinya. Ingat, kemahiran seks seseorang sangat tergantung dari pengalaman seks yang ia miliki. Semakin banyak ia melakukannya, maka akan semakin hebat dia dalam urusan seks. Gay mana yang tidak terobesi nge-seks dengan orang yang mumpuni dalam hal ini? Satu lagi, bila sang properti publik ini adalah seorang top dan memiliki ukuran penis ektra-large, bukankah sudah seharunya kalah lebih banyak gay yang bisa menikmati "Penis Umum" ini?

Namun demikian, gelar ini bisa juga bermaka hinaan manakala ia diterjemahkan sebagai lelaki murahan yang kerap begonta-ganti partner seks tanpa pilih-pilir orang. Adalah sah bergonta-ganti pasangan dalam dunia gay. Akan tetapi beberapa gay tidak bisa menerima kenyataan ada seorang gay yang melakukan seks dengan banyak orang. Terlebih ketika yang bersangkutan terikat komitmen dengan seseorang. Bukankah rumus dasar pacaran (tidak peduli ia homo ataupun hetero) adalah harus saling setia? Sudah selayaknya ketika pacaran, hati dan alat kelami seorang gay hanya menjadi milik pacarnya seorang, bukan?

Terlepas dari polemik tersebut, tidakkah konsep properti publik ini menarik? Ketika horny, kita cukup menelpon atau mengirim SMS sang "Bokong Umum" atau "Penis Umum" untuk mengatur janji melakukan seks dengannya. Tidak harus membayar ataupun terlibat dengan tetek bengek roman picisan. Just sex and that's all. Setelahnya, ketika bertemu di suatu tempat, kita bisa berpura-pura tidak saling kenal and that's ok. Siapa yang tidak mau?

Friday, July 24, 2009

BAD BOY

"If you want to be a good girl, get your self a bad boy.", demikian judul tembang era akhir 90-an yang dibawakan oleh boyband Backstreetboys. Well, dalam blog ini, kutipan tersebut akan menjadi, "If you want to be a good gay, get your self a bad boy." Dan inilah alasan mengapa penulis mengutip kalimat tersebut di atas...

Dalam tiga kali kencan buta, berturut-turut kamu mendapati teman kencan yang menyebalkan. Yang pertama memintamu antar jemput dia ke sana ke mari. Yang kedua alih-alih membuatmu horny, ketika membuka baju bau badannya teramat sangat menyengat. Dan yang ketiga hanya mau dipuaskan di ranjang tanpa ada itikad baik memuaskan balik. Dalam hati kamu pun berkata, "Apa yang telah aku lakukan sehingga layak mendapatkan perlakuan seperti ini?" Then you started to think that all gays on planet Earth are jerk and you are the only good gay left.

Dari tiga kali pengalaman menjalani hubungan serius, kamu kerap menjadi korban perselingkuhan. Mantan pacar yang pertama kedapatan selingkuh dengan teman yang kamu kenalkan padanya. Mantan pacar kedua posesifnya minta ampun sampai-sampai dia membatasi kamu bahkan untuk sekadar hang-out dengan teman-teman. Mantan pacar yang ketiga pelitnya minta ampun sehingga setiap jalan kamu yang harus keluar uang. Dalam hati, lagi-lagi kamu pun berkata, "Apa yang telah aku lakukan sehingga layak mendapatkan perlakuan seperti ini?" Then again, you started to think that all gays on planet Earth are jerk and you are the only good gay left.

Merasa menjadi gay paling baik sedunia, kamu pun kemudian menyalahkan semua bad boy yang pernah kamu temui. Bagaimana tidak? Mati-matian kamu berusaha menjadi partner-seks-semalam yang baik ataupun menjadi pacar-terbaik-sedunia namun semuanya seolah-olah tidak cukup. Toh pada kenyataannya, semua perjuanganmu hanya akan berakhir pada teman kencan yang menyebalkan ataupun pacar idiot yang tidak tahu apa yang telah ia lewatkan.

Kemudian kamu pun mulai berpikir, "Is it time for me to play dirty?" Kalau selama ini kamu dimanfaatkan (dari segi materi) oleh teman-kencan-semalam-mu, sudah saatnya kamu melakukan hal serupa. Kalau selama ini kamu yang kerap ditinggalkan dalam kencan buta, sudah saatnya melakukan hal yang sama. Dan Kalau selama ini kamu yang selalu menjadi korban perselingkuhan, well sepertinya sudah waktunya pula kamu menjadi aktor utama dalam perselingkuhan. Ya, sesekali mungkin kamu harus melakukannya.

PS: Satu-satunya hal yang membuatmu terlihat sebagai a good gay adalah karena kamu berada di sekeliling bad gay. Keadaan bisa berbalik tergatung jenis gay yang berada di sekelilingmu. Jadi, masih pentinghkah yang mana yang baik dan benar? Absolutelly not.

Wednesday, July 22, 2009

WHERE'S THE LOVE?

Satu hal yang memantapkan keputusan seorang gay untuk mengakhiri hubungan adalah harapan bahwa kelak di kemudian hari akan mendapatkan pengganti yang lebih baik lagi. Ya, cepat atau lambat, sang pengganti akan segera datang dengan membawa kesegaran cinta yang lebih dari lelaki sebelumnya. Mungkin butuh waktu sebulan, mungkin juga dua bulan. Namun apa yang terjadi kemudian ketika menginjak bulan ke sepuluh lelaki pengganti tidak juga kunjung tiba? Masihkah dia percaya akan cinta?

Tentu saja, dalam rentang waktu tersebut, bermacam lelaki datang dan pergi. Ada yang datang hanya sekadar bersenang-senang dan ada pula yang serius menyatakan perasaan. Dari yang serius menyatakan perasaan tersebut ada yang berbangga diri pernah memacari salah seorang artis sinetron, ada yang berpura-pura cinta sekadar untuk mendapatkan keuntungan semata, dan ada pula memaksakan diri mewujudkan romantisme sinetron belaka. Kalau sudah begini, wajar kirannya sang homo bertanya "Dimana cinta?"

Ya, dimanakah cinta berada? Ketika keberadaannya kerap tersamar birahi, bagaimanakah cara kita mengetahui kemurnian cinta yang datang dan pergi? Kalau kita tidak boleh menyerah mencari cinta, lantas berapa banyak lagi lelaki yang harus kita tiduri? Memang cinta meski diperjuangkan, tapi bagaimana kita tahu bahwa ia memang layak untuk untuk diperjuangkan?

Kalau sudah begini, kadang kita berpikir, "Benarkah keputusan mengakhiri hubungan dengan sang mantan yang telah kita ambil?" Ah...

Tuesday, July 21, 2009

BANDUNG GAY'S SPOT

Pertanyaan berikut kerap diajukan oleh teman dari luar kota (Bandung) kepada penulis. "Tempat nongkrong gay Bandung di mana sih?" Well, dengan bangga penulis menjawab dengan, "Setiap tempat nongkrong (baik cafe ataupun mall bahkan publik area seperti alun-alun atau area sekitar landmark kebanggaan kota) di bandung adalah tempat nongkrong gay." Tentu saja, jawaban tersebut direspon dengan curiga canda dan rasa tidak percaya. "Serius...", tegas sang penanya. "Beneran.", jawab penulis tak kalah serius. Seperti ini analisanya.

Pertama. Bandung tidak hanya terkenal denga mojang-mojang cantiknya tapi juga jajaka-jajaka yang rupawan dan ini adalah modal awal terbentuknya komunitas gay di Bandung. Mungkin pada awalnya jajaka-jajaka tampan itu memang bukan gay. Akan tetapi tampilan rupawan yang menjadi daya tarik serta ingeraksi dengan kaum gay yang ada di sekitar mereka, cepat atau lambat akan membuat mereka menjadi gay. If you know what I mean... What? you really don't know what I mean? Jelasnya, mereka akan segera meletek dengan dipeletekin dengan beragam cara, metoda, serta alasan masing-masing.

Kedua. Sebagai salah satu kota besar di Indonesia, Bandung menjadi salah satu kota tujuan, baik untuk belajar ataupun bekerja. Hal ini menjadikan arus pendatang sebagai satu elemen yang tidak bisa dipisahkan dari dinamika kota. Para pendatang inilah yang kemudian merasa bebas menjadi diri sendiri lepas dari kungkungan kota asal mereka. Bagi pendatang gay, mereka akan lebih bebas mengekspresikan homoseksualitas yang mereka sembunyikan selama berada di kota asal. Mereka akan lebih bebas membentuk kominitas-komunitas pertemanan tanpa harus dibebani rasa takut diketahui anggota keluarga atau sanak saudara yang lainnya. Mudahknya akses teknologi seperti internet yang sudah menjadi fasilitas wajib kota besar semakin memeriahkan jaringan pertemanan ini.

Ketiga. Sirkulasi arus pendatang baik dengan tujuan belajar ataupun bekerja membuat stok lelaki di bandung tidak akan pernah habis dan selalu diperhabarui. Hal ini sangat terasa ketika tahun ajaran baru. Beberapa gay pendatang yang telah malang melintang di Bandung selama 5 tahun masa kuliah dan kemudian harus bekerja di luar Bandung, akan digantikan oleh junior-juniornya yang tidak sedikit datang ke Bandung untuk tujuan eksplorasi preferensi seksualnya di samping niat awal menimba ilmu. Well, sambil menyelam minum sp***a katanya.

Keempat. Bandung tidak menyediakan tempat-tempat khusus gay seperti Jakarta atau Surabaya. Dua kota tersebut dikenal berpopulasi gay paling banyak di Indonesia. Tidak heran kiranya kalau pengusaha melihat ceruk pasar tersebut dan menyediakan fasilitas hang-out gay seperti diskotik atau spa khusus gay. Bagaimana dengan Bandung? Kabar buruknya, ternyata populasi gay Bandung dipandang masih kurang di bandingkan dengan Jakarta ataupun Surabaya sehingga mereka tidak hendak menanamkan uang dalam bentuk bisnis khusus gay. Tahun 2008 lalu, di kalangan gay beredar kabar akan segera dibukanya diskotek khusus gay di Bandung. Namun hal tersebut tidak terbukti kebenarannya. Beberapa diskotik memang beberapa kali menyelenggarakan gay-nite tapi hal tersebut hanya bersifat sesekali saja. Kabar baiknya, gay Bandung kerap nongkrong di tempat yang tersebar tidak terfokus pada satu area saja.

Mall sebagai salah satu identitas kota besar menjadi sarang tongkrongan yang nyaman kaum gay. Di Bandung, kita bisa menyebutkan Bandung Indah Plaza, Cihampelas Walk, serta Paris van Java sebagai mall dengan populasi gay paling banyak. Setiap akhir pekan, kita dapat menjumpai segerombolan lelaki-tak-biasa asik bercengkerama di cafe mall-mall tersebut. Alun-alun Bandung serta lapangan Gasibu adalah dua sampel public-spaces yang kerang dijadikan tempat nongkrong gay. Beberapa penjual asongan di kedua daerah tersebut bahkan telah mahfum bahwa setiap malam minggu tempat tersebut akan banyak dikunjungi lelaki penyuka lelaki. Ketika Anda chatting maka akan Anda menemui banyak sekali gay yang tinggal di daerah Dago, Setiabudi, Dipatiukur, Pajajaran, serta Buah Batu. Kelima daerah tersebut terkenal dengan daerah kos-kosan yang dekat dengan beberapa universitas ternama Kota Kembang. Ini belum termasuk wilayah wisata alam, kuliner, serta belanja yang memang menjadi salah satu kegiatan favorit kaum gay. Di Bandung, ketiga jenis tempat wisata tersebut tersebar hampir di semua wilayah di Bandung.

Jadi, Anda masih tidak percaya bahwa setiap jengkal wilayah di Bandung adalah tempat nongkrong gay? Well, Anda harus datang ke Bandung dan membuktikannya sendiri.

Saturday, July 18, 2009

HOMOSAURUS

Pernahkah kamu mendapatkan teman kencan yang (sorry to say) sudah uzur? Meski ketika pertama berkenalan dia mengatakan umurnya 40 tahu, tapi kamu tahu pasti bahwa usia yang sebenanya lebih dari itu. Ok, uban di rambut kepalanya bisa ia tutupi dengan cat rambut atau semacamnya, tapi ketika kemudian dia menanggalkan seluruh pakaiannya, uban di bulu kelaminnya tidak bisa berbohong. Mungkin kelaminnya masih bisa tegak berdiri, namun ketika kau melihat gelambir lemak di daerah perutnya, buyar sudah impianmu bercinta dengan sosok lelaki dewasa yang dalam kepalamu tergambar seperti Bruice Willis atau Richard Gere.

Di salah satu mall di Bandung, penulis kerap melihat seorang gay lanjut usia yang masih kerap wara-wiri setiap malam minggu. Bersama teman-teman satu gank, penulis tidak habis pikir. Apa yang ia lakukan di sini? Tidakkah dia memiliki keluarga yang menantinya menghabiskan akhir pekan bersama? Apakah dia tidak merasa bahwa weekend di mall sudah tidak cocok lagi dengan usianya yang sudah di kepala lima? Sorry grandpa, but we can't help it.

Homosaurus. Mungkin itulah kata yang tepat untuk homo lanjut usia seperti mereka. Bagaimana tidak, melihat mereka tidak ubahnya seperti melihat sosok makhluk purba yang seharunya sudah tidak lagi ada di zaman ini. Di usianya seperti sekarang ini, seharunya mereka bertobat dan meninggalkan dunia gay. Selain itu, mereka juga telah memiliki keluarga (istri dan anak dan mungkin pula cucu dan cicit) yang sudah seharusnya membuat mereka malu kalau masih tetap berperilaku homo. C'mon now it's time to back off and let the next generation (the fresh one, of course) take control. Ya, terimalah kenyataan bahwa sekarang sudah saatnya kalian punah.

Ngomong-ngomong tentang punah, sepertinya tidak hanya gay lanjut usia yang diharapkan tiada. Seperti kita ketahui, dunia homo juga banyak dihuni oleh pecundang konyol yang tidak becus menjalani hidup mereka sebagai gay. Misalnya saja mereka yang tidak atau belum siap dengan resiko komitmen yang mengharuskannya setia pada satu pasangan. Kalau masih berkeinginan nge-seks ke sana ke mari, sebaiknya Anda tidak menyatakan cinta pada seorang laki-laki. Sekadar TTM-an akan sangat baik bagi Anda.

Ada juga munafik yang paranoid tak beralasan. Seolah menjadi pusat perhatian dunia, dia berusaha mati-matian menjadi lelaki sempurna yang tanpa disadarinya hal tersebut terliha konyol. "Hey, you are a man even though you are a gay." Dalam kelompok ini, ada lelaki yang mengaku dirinya sebagai biseksual. "Ah, ketika kau menikmati seks dengan lelaki, sudahlah akui saja kalau kau adalah gay." Dan entah jenis lelaki hipokrit apa lagi yang akan bergabung dengan kelompok ini.

Ya, mereka semua adalah homosaurus yang sudah seharunya punah. Sudah selayaknya tahun 2009 ini diisi oleh para gay fabulous yang mengetahui dengan pasti apa dan siapa dirinya yang sebenarnya. Gay yang tidak takut lagi dengan pandangan miring orang. Gay yang bisa berprestasi melalui profesi masing-masing dan karenanya dapat memberikan pendapat pembanding atas tudungan miring atas kaum gay selama ini. You go, gays!

Wednesday, July 15, 2009

UFO: UNIDENTIFIED FUCKING OBJECT

Sudah dari sononya bahwa seorang gay ingin selalu tampil dan eksis. Meski dalam kehidupan "normal" beberapa gay kerap jaim setengah mati, namun dalam pergaulan sesama gay, mereka teteuup... ingin dikenal. Sebagaian gay menunjukkan esistensinya dengan sering on-line di chat-room. Sebagian lagi kerap hadir di pertemuan atau party bertema gay demi memperluas network-nya. Sementara sebagian yang lain lagi sering nongkrong di mall, cafe, atau spot gaul lainnya dengan tampilan atau dandanan atraktif sehingga menjadi pusat perhatian.

Adalah sebuah kebanggan tersendiri bagi seorang gay ketika ia menjadi bahan perbincangan (yang baik, tentu saja) di antara komunitas gay. "Kamu kenal Rio? Kemaren aku ngopi-ngopi sama dia." atau "Yup, bener banget. Emang Ijonk paling the best nge-dance-nya." atau "Gue nggak nyangka bisa main ke tempat Ale. Service yang ia berikan... Oh-my-God!". Mendengar perbincangan seperti itu, dijamin, gay yang bersangkutan bakal kegirangan. Dan tidak akan butuh waktu lama untuk kabar tersebut menyebar mengingat peraturan gays-tell-everything-to-his-friends.

Namun demikian, tidak semua gay bisa se-tampil dan se-eksis itu. Beberapa gay justru seolah hanya berperan sebagai penonton dalam drama kehidupan gay. Mereka tidak hanya tidak dikenal tapi juga kerap dijauhi dikarenakan berbagai alasan. Meski telah berusaha dengan keras untuk eksis, mereka tetap saja akan menjadi masuk dalam daftar "10 orang terakhir untuk diajak kencan". And that's the nightmare of all gays on planet Earth.

Satu hari, seorang gay masuk ke chat-room dan alangkah bergairahnya dia manakalah melihat daftar pengunjung chat-room tersebut berjibun. Dia membayangkan, berapa banyak laki-laki yang akan ia dapatkan (dan akan ia tiduri, tentu saja) malam ini. Namun setelah satu jam lebih chatting, toh tak seorang gay pun mengiyakan ketika diajak ketemuan. "Well, kalau satu jam pertama belum beruntung, satu jam berikutnya pasti lebih beruntung.", hiburnya dalam hati. Dan ketika memasuki jam ketiga peruntungannya tidak juga berubah, dia pun menyerah dan keluar dari chat-room tersebut dengan perasaan layaknya the invisible: no one notice him when he comes or even go.

Satu malam, seorang gay tengah horny sehingga ia pun mengirim SMS ajakan ML kepada beberapa gay yang pernah ia tiduri. Gay pertama tidak membalas. "Mungkin dia sedang sibuk.", hiburnya dalam hati. Gay kedua menjawab bahwa dirinya sedang berada di luar kota. "Minggu depan akan aku SMS lagi.", harapnya dalam hati. Gay ketiga membalas SMS dengan bertanya balik: Sorry, ini dengan siapa ya? "Damn! Dia tidak menyimpan nomor-ku.", umpatnya dalam hati dan pada saat itulah dia sadar bahwa ia tidak lebih dari unknonw-number yang muncul pada layar HP-nya.

Satu malam, seorang gay menghadiri kencan buta di sebuah cafe murahan dengan orang yang baru satu minggu yang lalu ia kenal via SMS yang direkomendasikan dari salah satu temannya. Ketika pertama bertemu dengan sang blind-date, semua berjalan lancar. Sang teman kencan dinilainya ramah dan enak diajak bicara. Meski beberapa kali perbincangan harus terpotong karena sang pasangan kencan buta membuka dan membalas SMS yang masuk ke HP-nya, ia masih berpikiran optimis bahwa kencan malam ini akan berakhir di tempat tidur. Ketika kemudan sang pasangan kencan buta mengangkat telpon dan berbicara dengan orang di seberang yang memintanya untuk segera pulang karena ada keperluan keluarga, pada saat itulah dia tersadar bahwa ia tidak diinginkan. Well, tak tik murahan emegency-call seperti itu pernah ia dapatkan dari teman-teman kencannya terdahulu dan ia pun berpikir sebegitu jeleknyakah diriku sehingga semua teman kencanku lebih baik berbohong untuk menghindariku dari pada mengatakan langsung alasannya tidak menyukai kehadiranku?

Satu sore, seorang gay pergi untuk window-shoping ke sebuah mall seorang diri karena semua temannya sibuk dengan acara masing-masing. Di salah satu gerai pakaian, ia bertemu dengan satu gank homo yang terdiri dari empat orang dan salah satu dari mereka pernah tidur dengannya. Ia yakin benar bahwa saat itu pandangna mata mereka betemu namun demikian sang partner-seks-semalam mengabaikannya. Memang dia tidak berharap tegur sapa akrab, tapi paling tidak bukankah ia berhak mendapatkan senyman ramah setelah semua yang pernah mereka lakukan? Ketika kemudian gank tersebut berlalu di depan hidungnya dengan gelak tawa seolah dunia milik mereka, sang homo pun tersadar bahwa dia bukan siapa-siapa.

Ya, dalam keadaan seperti tersebut di atas, seorang gay tidak lebih dari UFO (Unidentified Fucking Object. Makhluk asing dari luar angkasa yang terisolasi dari kehidupan manusia bumi. Too bad...

Saturday, July 11, 2009

DON'T ASK DON'T TELL

Apakah Anda mencurigai teman pria satu kantor yang kerap berpakaian serba ketat dan sangat menyukai warna pink sebagai seorang gay? Apakah Anda berpraduga bahwa saudara ipar pria adalah seorang gay mengingat cara duduknya yang bertumpang kaki dan memiliki perhatian berlebih terhadap keindahan kuku-kukunya? Apakah Anda sering bertanya dalam hati mengenai mengapa teman baik pria Anda tidak pernah menyebutkan pacar wanita dalam berbagai kesempatan mengobrol dengannya? Dan apakah Anda menyangka bahwa jati diri Anda sebagai seorang gay masih aman dan belum akan terbongkar sementara beberapa pria yang pernah Anda tiduri akrab dengan teman kantor Anda?

Well, kekhawatiran Anda seperti tersebut di atas sepertinya terlalu berlebihan mengingat salah satu peraturan gay internasional berbunyi "Don't ask, don't tell." Siapa Anda sebenarnya dan siapa dia sebenarnya akan menjadi rahasia berdua yang tidak perlu dipertanyakan. Tidak dibahasnya hal tersebut bukan karena akan membuat salah satu pihak tidak nyaman, tapi lebih pada empati dan toleransi.

Kalau beberapa orang berpendapat bahwa perempuan memiliki dua mulut yang karenanya mereka tidak akan pernah berhenti bergosip, well gay memiliki mulut lebih dari itu. Bayangkan apa yang bisa dilakukan orang dengan mulut lebih dari dua. Namun demikian, ketika berbicara mengenai pengungkapan jati diri, seorang gay akan berpegang teguh terhadap peraturan gay internasional tersebut di atas. Dia tidak akan meginterogasi seseorang yang ia curigai sebagai gay agar mengaku, pun tidak akan mebocorkan jati diri seorang gay kepada sembrangan orang.

Ini terbukti pada aman tersimpannya rahasia beberapa selebritis gay Indonesia. Ketika beberapa media infotaintmen masih menduga bahwa selebiritis X adalah seorang gay, maka beberapa gay yang pernah tidur dengan sang selebritis tersebut telah membuktikannya. Namun demikian, fakta otentik tersebut tidak akan mereka sebarluaskan kepada media. Well, kabar tersebut cukup dibagi dengan teman-temannya sesama gay yang akan mereka ceritakan juga pada beberapa teman gay yang ia temui (ingat, gay memiliki mulut lebih dari dua), dan jadilah berita tersebut sebagai rahasia umum gay. Namun demikian, rahasia umum tersebut hanya akan beredar di antara komunitas gay saja, tidak lebih.

Jadi, berhentilah menduga ataupun takut berlebihan akan terbongkarnya jati diri sebagai gay. Just being gay and fabulous (dengan lambaian tangan tertentu).