Tuesday, August 05, 2008

THEY DON'T KNOW OR DON'T WANT TO KNOW?

Menjadi gay adalah sesuatu yang harus kita tutup-tutupi. Karenanya hari-hari kita disibukkan dengan jaga image dan kekhawatiran apakah orang-orang di sekitar kita mencium gelagat ke-gay-an kita. Kita sibuk dengan menebak, "Kira-kira, mereka tahu tidak ya?" Pertanyaannya, sebaik apa usaha kita menyembunyikan jati diri sehingga tidak ada sedikitpun kemungkinan orang di sekitar kita mengetahui ke-gay-an kita?

Mengenai hal ini, ada kisah menarik dalam serial "Ugly Betty" yang dapat kita ambil pelajaran. Dikisahkan, Marc sang asisten flamboyan (dan gay tentu saja) dipusingkan dengan kedatangan sang Bunda ke kantornya. Bagaimana tidak, dia harus berpura-pura memiliki pacar perempuan. Selama ini, Amanda-lah (sang resepsionis tengil) yang bertugas menjadi "pacar perempuan" Marc. Dikarenakan Marc terlanjur menjelek-jelekkan Amanda di depan sang Bunda, Marc pun berpura-pura telah putus dari pacar pura-puranya. Nah, Marc pun kalang kabut ketika tiba-tiba yang Bunda nongol di depan meja resepsionis. Naluri iseng Amanda bekerja. Pada ibunda Marc, Amanda berkata bahwa Marc sudah memiliki pacar baru. Untuk menyiksa Marc, Amanda tentu menyebutkan nama Betty (yang kebetulan lewat) sebagai kekasih baru Marc. Keisengan Amanda tidak berhenti di situ, ia mengangkat telepon Betty (yang tertinggal di meja resepsionis). Di seberang sana, Ayah Betty menelpon. Amanda pun menyambungkan telepon dari ayah Betty tersebut dengan ibunda Marc. Tentu saja, akhir dari perbincangan itu adalah janji makan malam di rumah Betty sebagai sarana mendekatkan kedua orang tua yang segera berbesanan tersebut.

Makan malam pun tiba. Dengan segala sandiwara Betty dan Marc berusaha meyakinkan bahwa mereka adalah pasangan yang bahagia. Namun demikian, semua mendadak kacau manakalah kakak dan keponakan Betty bergabung dalam acara makan malam tersebut dan berusaha membongkar sandiwara tersebut dengan melontarkan komentar-komentar nyerempet. Keadaan semakin kacau ketika Daniel yang oleh kakak Betty disebut sebagai mantan pacar Betty datang untuk menunjukkan artikel yang dibuatnya kepada Betty. Tidak berhenti di situ, ibunda Marc tak henti berkomentar tentang keluarga Betty. Mulai dari kakak Betty yang hamil di luar nikah, ayah Betty yang seorang imigran gelap, serta keponakan Betty yang bertingkah kemayu. Yang terakhir ini yang kemudian membuat Marc berang.

Di puncak kemarahannya, Marc meminta bundanya berhenti mengomentari keponakan Betty yang kemayu dan melihat anak laki-laki dihadapannya. Apa jawaban sang bunda? Ia bilang, "Marc, jangan berani kau mengatakan hal itu (bahwa Marc gay)." Marc mencoba meyakinkan ibunya bahwa begitulah dia sebenarnya, dia nyaman dengan hal itu dan ingin ibunya tahu siapa dia sebenarnya. Bunda menolak, "Ibu memilih tidak tahu daripada tahu dan kemudian kehilangan anak laki-laki favorit ibu." Sang ibu pun pergi meninggalkan kesedihan di hati Marc yang biasa tampil ceria.

Melihat adegan tersebut, penulis berkesimpulan bahwa mungkin saja orang-orang teredekat di sekitar kita mengetahui atau paling tidak mencium gelegat ke-gay-an kita. Kita bisa saja serapih mungkin menyimpan jati diri kita, namun demikian sedikit kecurigaan itu pasti ada di benak orang-orang sekitar kita. Namun demikian, setelah mereka tahu atau paling tidak sekadar curiga, apa yang terjadi kemudian? Sebagaian dari mereka mungkin akan mencari tahu lebih lanjut, ada yang mengabaikan kecurigaan dalam benaknya, dan ada juga yang memilih tidak mau menghadapi fakta bahwa kita adalah seorang gay. Biarlah dalam benak mereka kita adalah seorang anak laki-laki normal yang bertingkah kemayu. Bagi mereka, melihat kita mengakui jati diri kita adalah sesuatu yang menyakitkan dan karenanya mereka memilih tidak mengetahuinya.

Well, menjadi merdeka (dengan mengakui diri sebagai gay) ternyata tidak semudah kelihatannya. Mengapa? Karena ini tidak hanya berkaitan dengan kita tapi juga orang-orang di sekitar kita yang menyayangi kita sebagai seorang laki-laki normal dan tidak ingin terluka dengan membuka mata mereka dan melihat kita mengakui ke-gay-an kita. Hhmmm...

Friday, August 01, 2008

HE IS STILL GAY ANYWAY

Pasangan suami istri selebritis diwawancara pagi ini di sebuah acara infotainment. Mereka dikonfirmasi mengenai gosip yang menyatakan bahwa sang suami adalah seorang gay. Dengan santai sang istri berkata, "Oh, itu. Yang jelas aku meyakini apa yang aku dengar dan lihat dari suamiku. Itu kan hanya kabar burung yang tidak bertanggung jawab yang datang entah dari mana." Tidak kalah santai, sang suami menanggapi dengan senyuman. "Itu sudah biasa.", katanya. Secara panjang lebar kemudian sang istri menjelaskan bahwa tidak mungkun rumah tangganya bertahan hampir selama 8 tahun kalau sang suami seorang gay. Dia juga menambahkan, kalau suaminya seorang gay, tidak mungkin sekarang ini mereka memiliki empat orang anak. Intinya, sang istri ingin meyakinkan bahwa rumah tangga mereka baik-baik saja dan hal ini tidak mungkin terjadi kalau sang suami adalah seorang gay.

Hhmm, apakah betul demikian? Beberapa fakta mengenai gay mungkin tidak diketahui oleh sang istri.

Pertama, seorang gay bisa saja memutuskan untuk menikah dengan seorang perempuan. Alasannya bisa karena tuntutan keluarga, melanjutkan keturunan, tidak mau disebut bujang lapuk, dan tidak mau dipandang miring oleh masyarakat sekitar.

Kedua, seorang gay bisa saja memberikan kenikmatan seksual pada istrinya. Apa susahnya? Toh yang ia lakukan dengan istri (making love) tidak jauh beda dengan teman kencannya (seorang laki-laki). Bedanya hanya di depan dan dibelakang doang. If you know what i mean.

Ketiga, seorang gay bisa saja mengharapkan kehadiran anak dalam rumah tangganya. Alasannya sama dengan alasan menikah. Well, sebagaian dari mereka tidak mau ribet dengan harus menjelaskan preferensi seksualnya pada dunia luar. Karenanya mereka lebih memilih mengikuti tuntutan mainstream, menikah dan mempunyai anak.

Keempat, seorang gay bisa saja berpenampilan jauh dari feminim. Memang kebanyakan umum mempersepsikan gay sebagai laki-laki flamboyan. Toh kita tidak bisa menutup mata bahwa ada juga gay yang berpenampilan sangat laki. All above these, he is still gay anyway.

Kelima, seorang gay bisa saja setia pada seorang wanita dan tidak akan tergoda oleh perempuan lain. Hhmm... Bagaimana dengan laki-laki lain? Well, karena tidur dengan laki-laki lain tidak dikatagorikan perselingkuhan dalam rumah tangga mereka, jangan harap ia tidak akan melirik laki-laki lain. You just never know.

Ya, semua bisa saja terjadi. Semua fakta tersebut di atas mungkin akan dibantah habis-habisan oleh seorang istri yang dicurigai memiliki suami gay. Ok, tidak ada yang dapat merubah keyakinan dan kepercayaan seorang istri kepada suaminya. All i want to say is just be carefull. Jangan abaikan lima fakta tersebut di atas.

Thursday, July 31, 2008

SEBUAH PELAJARAN BERNAMA RYAN

Dunia gay dihebohkan oleh kasus yang dibuat oleh Very Idam Henyansyah alias Ryan. Dunia gay yang semula (dan sudah seharusnya) berada dalam atmosfir undercover, tiba-tiba saja mencuat menjadi bahan perbincangan karena Ryan dari Jombang yang notabene seorang gay menjagal 11 (atau mungkin juga lebih) orang. Dunia hetero pun mendelik sengit ke dunia homo. Mereka dengan gegabah berasumsi, "Lihat, hanya gay yang bisa melakukan pembunuhan kejam seperti itu." Salah satu pembawa acara talkswhow di TV swasta nasional kita bahkan berusaha menggiring opini pemirsa bahwa seorang gay berpotensi menjadi seorang psikopat hanya karena cemburu kekasihnya hendak direbut orang. Beberapa komunitas gay tidak tinggal diam. Mati-matian mereka berujar bahwa kasus Ryan tidak bisa men-generalisir tipikal gay pada umumnya. Ryan hanyalah oknum gay yang tega membunuh, bukan sampel yang mengisyaratkan bahwa semua gay adalah pembunuh.

Well, semua orang berhak mengeluarkan pendapat atas kasus Ryan yang memang tengah hangat diperbincangkan dua pekan terakhir ini. Dalam kaca mata yang lebih jernih, kita bisa mengambil beberapa pelajaran yang sangat pantas kita ambil dari kasus ini. Lepas dari tendensi dan sakwasangka, beberapa pelajarang yang dapat diambil tersebut antara lain:

Pertama. Men-generalisir semua gay adalah kriminal merupakan tuduhan yang teramat sangat tidak manusiawi. Semua orang, baik straight ataupun gay, berpotensi melakukan tindak kriminalitas. Namun demikian, dunia gay kerap diwarnai tindak kriminalitas adalah sebuah fakta yang tidak bisa dikesampingkan begitu saja. Penipuan, pencurian HP ataupun laptop, serta pemerasan dengan imbalan sejumlah uang dalam sebuah pertemuan blind date kerap terjadi dalam dunia gay. Mengundang sembarang orang yang kita kenal dari dunia maya untuk kencan semalam beresiko mendatangkan kejahatan. Kita akan kesusahan melacak jati diri asli teman kencan kita mengingat kebanyakan gay akan memberikan identitas palsu ketika berbincang di dunia maya. Karenanya, ketika mereka melakukan tindak kriminal, kita tidak bisa berbuat banyak selain melakukan tindakan ekstra hati-hati pada kencan buta dengan teman kencan dari dunia maya selanjutnya. Pada kasus Ryan, dia adalah seorang gay yang memanfaatkan teman kencannya untuk mengambil keuntungan mengeruk harta benda korban-korbannya. Jelas, ada motif ekonomi dalam hal ini. Dan berbicara mengenai ekonomi, semua orang bisa melakukan kejahatan atas alasan yang satu ini, bukan?

Kedua. Kalau orang tua mengaku mengenal dengan persis siapa anaknya, well pertimbangkan lagi. Seorang anak, terlebih gay, memilih menyimpan rapih jati diri ke-gay-an-nya. Mereka tidak akan mau mengambil resiko merepotkan orang tuanya dengan membeberkan kecenderungan seksualitasnya. Biarlah, orang tua mengenal anaknya sebagai pria manis penurut yang tidak pernah membangkang orang tua apalagi berbuat hal-hal yang dapat meresahkan hati orang tuanya. Jadi, ketika orang tua Ryan (Ahmad Sadikut dan Siatun) mengatakan bahwa ia tidak paham dengan tindakan anaknya, hal itu tergolong wajar. Bukan hanya itu, dugaan keterlibatan kedua orang tua Ryan ini nampaknya merupakan sebuah tuduhan yang dinilai berlebihan.

Ketiga. Banyak hal yang dapat terjadi dalam rentang waktu SD, SMP, SMA, ataupun kuliah. Kalau kita mengenal seseorang terlihat biasa-biasa saja ketika SD ataupun SMP, bukan tidak mungkin dia bisa berubah menjadi gay. Ketika Paining (salah seorang teman SD Ryan) ditanya mengenai bagaimana Ryan sewaktu SD dan dia menjawab bahwa ia tidak menyangkan bahwa temannya tersebut adalah seorang gay, well things changing right?

Keempat. Ketika tetangga serta komentator tidak penting lain (termasuk diantaranya adalah para selebrity dan atau ustadz selebriti munafik yang dengan seenaknya berkomentar miring) berkata percuma saja Ryan menjadi guru ngaji, toh perbuatannya (baca: Ryan menjadi gay) bertolak belakang dengan ajaran agama. Ada yang terlupakan di sini. Mereka bukan Tuhan yang dapat mengadili baik dan benar perbuatan manusia. Jadi berhentilah bersikap seolah-olah Tuhan. Bukankah dalam pandangan Tuhan tidak akan luput kebaikan umatnya, sekecil apapun kebaikan tersebut?

Friday, July 18, 2008

5 HAL YANG KERAP DIKELUHKAN BOTTOM TERHADAP TOP

Seorang gay bisa mengeluh juga? Ya, ha! Gay juga manusia, bukan? Berkaitan dengan interaksi top-bottom dalam hal seks, para bottom memiliki beberapa keluhan yang kadang tidak mereka sampaikan kepada top. Mengapa? Ya, ini adalah hubungan kencan semalam sehingga tidak ada sedikitpun alasan untuk membahas perasaan, keinginan, serta pengertian. Apa saja keluhan mereka (para bottom) tesebut?

Pertama: kondom. Entah mengapa harus selalu bottom yang menyediakan kondom. Padahal kalau dipikir lebih lanjut, bukankah para top yang mengenakan alat yang satu itu ketika berhubungan seks? Ketika kita bertemu untuk kencan satu malam, sudah hampir dapat dipastikan seorang top tidak membawa kondom. Mereka selalu mengandalkan dan berasumsi bahwa benda yang satu ini sudah disediakan sang bottom. Bagaimana jika tidak dan berdua mereka saling cocok?

Kedua: pelicin. Sama halnya dengan kondom, para top kerap mengabaikan benda penting yang satu ini. Memang, pelicin ini sudah includ dalam kondom yang berpelumas. Namun demikian, para bottom memerlukan pelumas lebih untuk dapat menikmati seks anal secara maksimal.
Mereka (para top) kerap berpikir, worst come to worst, dia bisa menggunakan ludah sebagai pelicin. Eww...!

Ketiga: 'gurah vagina'. Para bottom memerlukan ritual yang satu ini. Mereka tidak mau kenikmatan seks yang didapat berujung pada menempelnya 'ampas' di batang penis setelah dicabut dari lubang anus. Memalukan dan tidak profesional, itu adalah kata yang tepat untuk situasi tersebut di atas. Nah, terkadang hal ini tidak disadari oleh top. Kadang mereka langsung tembak tanpa memberi kesempatan bottom untuk melakukan ritual bersih-bersih lubang anus. Atau ketika seorang bottom ingin memastikan bahwa acara akan berlanjut pada seks anal, hal ini dipersepsikan binal dalam otak sang top. Bukan. Sekali lagi, bukan. Ini tidak lebih dari memberikan kesempatan bagi botton untuk 'gurah vagina'.

Keempat: keluar di dalam. Para top cenderung menginginkan spermanya disemprotkan di perut atau di muka bottom. Hal ini memberikan kesempatan bagi mereka untuk memamerkan limpahan sperma yang mereka miliki. Selain itu, hal tersebut juga dapat memenuhi fantasinya seperti yang dilakukan para peman film bokep dalam film-film mereka. Ada kepuasan tersendiri bagi mereka. Sementara itu, bottom lebih menyukai partner seksnya mengeluarkan sperma di dalam lubang anusnya. Ini memberikan kesempatan baginya untuk menikmati setiap detik proses ejakulasi partner seksnya. Ini memberikan sebuah kebanggaan dan tersendiri merasakan denyut otot-oto penis, mendengarkan erangan, serta melihat ekspresi kenikmatan partner seksnya. Selain itu, bagi sebagain bottom profesional, hal ini dapat memungkinkannya memberikan kenikmatan tambahan berupa remasan otot dinding anus pada penis sang top. Boys, you missing so much!

Kelima: after play. Setelah selesari ritual ML, sebagaian besar top langsung bergegas membersihkan diri. Lebih buruk lagi, sebagian yang lain langsung pulang tanpa berbasa-basi terlebih dahulu. It's suck! Bagi para top, berhentilah melakukan hal tersebut. Bottom butuh after play seperti ciman, pelukan, bahkan ucapan terima kasih yang sepertinya tidak mungkin diberikan para top setelah ML. Memang, seks yang barusan terjadi adalah ONS, namun tetap kalian para top tidak harus kehilangan tatakrama seperti tersebut di atas, bukan? May it sounds pathetic, but that's us. The pathetic you slept with.

Tuesday, July 15, 2008

DAYA TARIK GAY DI MATA WANITA

Beberapa teman (gay, tentu saja) pernah bercerita mengenai pengalamannya menjalin "hubungan" dengan seorang wanita. Teman pertama bercerita pernah mendapat surat cinta dari wanita penjaga warung tegal. Bukan hanya seorang, tapi tiga orang. Ketiganya (dalam waktu berbeda) menyelipkan surat cinta ke dalam katung plastuk pembungkus makanan yang ia beli. Ketiganya sama-sama menyatakan ketertarikannya dan menanyakan kemungkinan menjalin hubungan yang lebih serius. Apa tanggapan sang teman? Tidak ada. Alih-alih senang ditaksir seorang perempuan, dia malah ngacir tidak pernah lagi membeli makanan di warteg bersangkutan.

Teman kedua pernah dijodohkan oleh sang kakak dengan seorang perempuan. Berawal dari SMS dan telepon perkenalan, mereka pun akhirnya berkencang. Suatu saat, sang teman mendapatkan kesan tidak enak karena sang perempuan tidak pernah menghubunginya lagi setelah kencan makan malam. Bahkan untuk sekadar mengucapkan terima kasih telah ditraktir makan sekalipun tidak. Mungkin sang perempuan mencoba playing-hard-to-get. Namun hal itu malah membuat sang teman il-feel. Selang beberapa waktu kemudian, sang perempuan kembali menghubungi dan menanyakan kapan bisa berkencan lagi. Dia bilang senang dan sangat bahagia bisa bertemu dan berkenalan. Apa yang dilakukan oleh temanku tersebut? Dia menghindar.

Teman ketiga memiliki hubungan yang sangat dekat dengan teman kerja sekantornya. Diantara mereka sudah tidak ada lagi rahasia satu sama lain. Kerap mereka bertandang ke rumah satu sama lain sehingga keluarga menyangka mereka memiliki hubungan serius dan kaarenanya mereka pun memberi restu. Suatu saat, sang teman mengungkap jatidirinya. Walaupun kaget, perempuan bisa memahami dan masih mau berteman dekat. Dalam berbagai kesempatan berdua, canda mengenai mereka yang bisa saja menikah kalau sang teman bukan seorang gay, kerap terlontar.

Teman keempat kerap memberikan perhatian kepada beberapa teman wanitanya di kampus. Mulai dari SMS, telepon, menemani di rumah sakit ketiak ia dirawat, membantu mengerjakan tugas kuliahnya, sampai jalam berdua di berbagai kesempatan. Awalnya, sang teman hanya ingin bersikap baik dengan melakukan semua hal tersebut di atas. Tapi ternyata hal tersebut diterjemahkan beda oleh wanita-wanita tersebut. Al hasil, ketiak wanita tersebut bercerita satu sama lain, kecewalah mereka. Mereka menganggap dirinya diduakan atau ditigakan. Cap playboy pun melekat di kening sang teman. Apa yang dilakukannya kemudian? Tidak peduli. Toh dia tidak merasa memberi harapan pada wanita manapun.

Teman kelima memiliki secret admirer (seorang wanita) selama empat tahun. Ketika kemudian sang wanita memberanikan diri make the first move dengan cara mendekati kakaknya, sang teman kemudian kalang kabut. Apa yang harus dia lakukan? Sama sekali dia tidak mengenal the secret admirer, apatah lagi memiliki ketertarikan kepadanya.

Pertanyaannya: Semenarik itukah laki-laki gay dalam pandangan seorang wanita? Ataukah sang wanita yang terlalu buta oleh rasa suka sehingga mereka tidak menyadari laki-laki pujaannya tidak menyukai wanita? No body knows. Namun demikian satu hal yang pasti adalah bahwa seorang gay tidak akan pernah melukai perasaan wanita. Mereka akan memperlakukan seorang wanita dengan sangat hormat. Mereka tidak pernah melecehkan wanita dengan menyuitinya di pinggir jalan apalagi colak-colek sembarangan. Ya, di mata pria gay, wanita adalah mahluk mulia yang harus dimuliakan. Dan mungkin hal itulah yang menjadi daya tarik pria gay dalam pandangan wanita. Mungkin, sekali lagi mungkian.

Friday, July 11, 2008

TOP 10 ANNOYING GAY

Menjadi gay adalah sebuah hidup yang penuh dengan tekanan. Tertekan karena harus menyembunyikan jati diri, tekanan karena mendapatkan cibiran bahkan cacian, serta berbagai tekanan akibat benturan dengan mainstream yang selalu mengatasnamakan nilai-nilai, norma, serta kepatutan. Tidak cukup sampai di situ, problematika kehidupan gay masih masih harus ditambah dengan kehadiran annoying gays. Ya, kita masih harus berurusan dengan para gay menyebalkan yang kadang - mau tidak mau - terlibat dalam kehidupan kita. Siapa saja mereka? Berikut hitung mundur daftar tersebut.

Ten: Teman kencan semalam yang bilang kita brengsek hanya karena tidak mau menanggapi keseriusannya untuk melakukan kencan lanjutan. Mati-matian dia menjelaskan bahwa dia sangat tertarik dengan kita dan berniat melanjutkan hubungan lebih serius. Kita sudah menolak dengan cara lembut ataupun kasar. Toh, dia kekeuh dan ketika kita bilang tidak usah bertemu lagi pada saat itulah dia marah-marah tanpa alasan. Ingat kontrak awalnya, bung! ONS.

Nine: Laki-laki yang kerap membikin kita horny melalui SMS, telepon, ataupun bertemu langsung tapi tidak menuntaskannya. Dia seolah berlagak jual mahal karena dia tahu kita sangat menginginkannya. What a jerk!

Eight: Pria yang menyakiti perasaan teman kita. Mulai dari mengecewakan perasaa, menggantung cinta, serta melorotin duit teman tersebut. Memang ini tidak ada urusannya langusng dengan kita. But still, these gay deserve to curse.

Seven: Teman yang curhat tentang permasalahan yang sama secara berulang-ulang dan secara berulang-ulang pula kita memberinya solusi tapi tidak ia patuhi. Halloo...?

Six: Orang yang suka pemer tentang kekayaan pacarnya. Dengan berapi-api dia cerita tentang mobil pacarnya, cerita tentang uang saku yang diberikan pacarnya, cerita tentang liburan di vila bersama pacarnya, dan cerita menyebalkan lainnya. Hey, itu semua punya pacarmu dan kau tidak punya apa-apa. Seharusnya kamu malu.

Five: Teman yang menyebarkan nomor HP kita pada sembarang orang tanpa permisi. Ketika kemudian kita konfirmasi, dia tidak ngaku. Dikiranya kita tidak menginterogasi orang yang menghubungi kita, mencari tahu dari mana dia mendapatkan nomor kita. Gay juga punya privasi, kaleee....!

Four: Sorang pria yang pura-pura straight tapi melotot ketika melihat pria berotot. Dia kerap memojokkan kita karena terlalu ngondek atau semacamnya. Sementara dia dengan ke-manly-an artifisialnya bertingkah seolah-olah dia lah laki-laki yang sesungguhnya. We'll see!

Three: Mantan pacar yang selalu berusaha mendapatkan kesempatan ke dua tapi toh dia tidak merubah kelakuan minusnya. Di depan kita dia merengek dan menangis minta kembali tapi pada saat yang bersamaan dia sedang menjalin hubungan dengan orang yang bahkan di bawah standar kita. Eew...!

Two: Orang yang kita campakkan karena tidak bisa dipercaya namun masih ingin tetap bersama atas nama persahabatan. Lebih buruk lagi ketika dia berusaha mencuri teman kita untuk dijadikan sekutunya. Hey, boy! Just get out!

One: Mantan pacar BF kita yang kerap mendramatisir masalah dan selalu melibatkan pacar kita di dalamnya. Satu saat dia merasa sangat tertekan bahkan ingin bunuh diri dan membutuhkan pacar kita ada disampingnya sebagai shoulder to cry on. Di saat yang lain dia cerita dengan sumringah (baca: pamer) mengenai kebahagiaannya kepada pacar kita. What's the point?

Thursday, July 10, 2008

WILL YOU MARRY HER?

Apa yang seharusnya dilakukan seorang gay ketika kerabat, kakak, atau bahkan orang tua menjodohkannya dengan seorang perempuan? Mampukah ia menolak (dengan seribu satu alasan) namun tetap menjaga perasaan keluarga serta sang calon istri? Haruskah dia menerima perjodohan tersebut dan akhirnya menikah dalam bayangan kebohongan? Lalu, akankah ia siap menjalani dan mempertahankan kehidupan artifisial keluarga hetero?

Secara simpel, kita bisa menanggapi perjodohan tersebut dengan senyuman dan berkata, "Aku bisa nyari sendiri. Tidak usah dijodoh-jodohkan." Pada kenyataannya, masalah tidak bisa diselesaikan dengan sesimpel itu. Ketika berbicara perjodohan, kita tidak hanya berhadapan dengan pihak keluarga, tapi juga sang calon istri. Sudah menjadi kodrat seorang gay bahwa dia tidak ingin menyakiti hari seorang wanita. Hal inilah kemudian yang membuatnya terbelah antara ingin berbakti pada orang tua (khususnya ibu) dengan mematuhi perintahnya, tidak ingin membohongi sang calon istri, serta mengikuti kehendak hati nurani. Ini adalah permasalahan rumit yang harus dihadapi seorang gay selain menentukan jenis kondom dan pelicin yang paling sesuai.

Rumit? Ya! Mari kita lihat betapa rumutnya proses perjodohan dunia hetero. Sebuah proses perjodohan akan dimulai dengan kalimat pembuka, "Silaturahmi saja dulu." atau "Kenalan saja dulu." Siapa yang bisa menolak silaturahmi dan perkenalan? Tidak ada dan inilah perangkap awal yang menjerat kaki seorang gay dalam jebakan perjodohan. Ketika kemudian sang calon istri diceritakan sebagai seorang wanita yang baik, calon ibu teladan, ramah terhadap keluarga, serta sudah siap untuk menikah, tekanan terhadap kita pun menjadi berlipat ganda. Lagi, siapa yang bisa menolak perempuan seperti ini untuk dijadikan istri? Ini diibaratkan sebgai proses penggiringan agar kita masuk ke dalam perangkap secara suka rela. Proses selanjutnya menjadi lebih rumit manakalah sang calon istri sudah mendekati pihak keluarga. Ia kerap bertandang ke rumah orang tua, berusaha mendekatkan diri dengan kakak dan adik kita, serta ikut terlibat dalam acara-acara keluarga. Ketika kemudian orang tua mengatakan, "Dia calon istri yang cocok buat kamu.", siapa pula yang bisa menghindar?

Kalau sudah begini, sepertinya satu-satunya jalan menyelesaikan masalah perjodohan ini adalah dengan mengatakan ya. Kita bisa saja berpura-pura menyukai perempuan dan berniat menikahi calon istri kita. Apa susahnya? Toh dia juga adalah perempuan baik yang secara sadar ingin mengabdikan dirinya untuk kia, sang calon suami. Kita juga bisa berpura-pura bersikap layaknya laki-laki kebanyakan. Kita bisa menjadi kepala rumah tangga, melakukan perkejaan lelaki seperti membetulkan genteng yang bocor atau melakukan ronda. Akan tetapi, pertanyaanya kemudian adalah, sampai kapan kita mampu berbohong?

Jujur, siapa sih orangnya yang tidak ingin menikah? Siapa yang tidak mau memiliki keluarga dengan orang yang kita cintai? Siapa pula yang tidak ingin memiliki keturunan sebagai penerus silsilah keluarga? Tidak ada! Semua orang menginginkan hal tersebut, termasuk gay sekalipun. Dia akan menikah, membina keluarga, dan memiliki keturunan hanya saja (kalau boleh memilih) tidak dengan perempuan tapi dengan laki-laki yang mencintai dan ia cintai.

Atau - ketika sampai pada proses perjodohan keluarga - ini adalah saat yang tepat bagi kita untuk berkata jujur pada keluarga tentang ke-gay-an kita? Ok, ini bukan alternatif penyelesaian masalah yang tepat karena dapat menimbulkan masalah baru yang bisa saja lebih rumit. Please, do not try this at home.