Monday, May 18, 2009

KASIH TAK SAMPAI

Dulu, semasa SMA atau mungkin juga kuliah, kamu tentu pernah naksir seorang laki-laki. Kau pun kerap memberikan perhatian, mencurahkan kasih sayang, atau mungkin juga kerap menghabiskan waktu berdua dengannya yang di matanya itu semua tidak lebih dari sebuah persahabatan. Tentu saja, kamu tidak bisa jujur mengatakan perasaanmu kepadanya karena takut akan reaksinya manakalah mengetahui bahwa kamu mencintai dia. Karenanya, kamu pun harus merasa puas hanya dengan menjadi best-friendnya.

Selepas SMA atau kuliah, kalian pun berpisah karena dia harus menlajutkan kuliah atau kerja di luar kota. Di awal perpisahan, kalian masih keep contact baik via SMS ataupun e-mail. Seiring berjalannya waktu serta kesibukan masing-masing, frekwensi kontak SMS atau e-mailpun semakin berkurang dan bisa dibilang lose-contact. Suatu hari, entah setelah berapa tahun tidak terdengar kabarnya, dia kembali menghubungimu dengan sebuah berita mengejutkan. He's got married! Dunia memang tidak berakhir dan kamu pun tidak akan mengakhiri hidupmu demi mendengar berita tersebut tapi tetap saja kamu merasa kehilangan. Meski kamu tahu bahwa romansa cintamu dengan dia tidak akan terwujud, tapi kabar pernikahannya seolah-olah membuat kemungkinan terwujudnya impianmu semakin mustahil. Tidak ada yang dapat kamu ucapkan saat itu selain berpura-pura turut berbahagia, memberinya ucapan selamat, dan mengubur dalam-dalam semua kenangan indah dengannya.

Setelah kabar pernikahan tersebut, dia hanya sesekali memberi kabar yang kau tanggapi dengan dingin. Salah satu kabar yang pernah ia sampaikan adalah bahwa sekarang dia sudah dikaruniai seorang putri cantik. Lagi, kau pun berpura-pura bahagia dan memberinya ucapan selamat. Pada saat itulah matamu terbuka bahwa dia bahagia dengan kehidupan rumah tangganya, bahwa dia laki-laki yang mencintai perempuan, dan bahwa dia sebagai seorang laki-laki telah memiliki segalanya. Arti dirimu di matanya pun menjadi semakin kecil. Kau tidak lebih dari sahabat lama yang pernah hadir dalam satu periode tertentu kehidupannya.

Satu hari, telpon darinya membuatmu berbunga. Dia akan datang ke Bandung dan meminta bertemu denganmu sekalian ingin memperkenalkan anak-istrinya. Tentu saja, kamu tidak sabar ingin melihat wajahnya juga wajah anak-istrinya. Well, dengan kasih tak sampaimu kamu memang kangen dan ingin bertatap muka dengannya sementara dengan anak dan istrinya suara dalam hatimu berkata lain. Kamu ingin membuktika bahwa istrinya tidak lebih menarik dari kamu. Mengenai anaknya, dalam hati kamu ingin melihat wajah anakmu seandanya saja kau dan kasih tak sampaimu menikah dan dikaruniai anak. Is that sounds crazy?

Well, it's too little too late to think about craziness while on the other hand you fucking a gay. Pada hari yang telah ditentukan kamu pun datang di stasiun kereta api seperti janjinya di telepon. And here they are... Sang kasih tak sampai menggendong pitri cantiknya dan di sebelah kirinya seorang perempuan berjilbab menggandeng erat tangannya. Tidak ada peluk erat seperti ketika pertama kali kau mengantarkannya ke luar kota untuk melanjutkan kuliah ataupun bekerja meski saat ini kau berada di stasiun yang sama. Yang ada hanya basa-basi mengenai bagaimana pekerjaan, masih keep contact dengan teman lama yang lain, serta kapan rencana memiliki momongan lagi. Semua terasa berbeda sekarang. Meski di relung hati rasa itu masih ada namun demikian semua seolag tidak ada artinya sama sekali. Kalau dulu dia hanya menceritakan kehidupan keluarganya via telepon yang karenanya di matamu semua tampak sebagai sebuah imajinasi, sekarang semuanya menjadi nyata. Dia telah berkeluarga dan berbahagia dengan anak-istrinya. Pertemuan pun hanya berlangsung setengah jam dan dengan alasan harus kembali bekerja kamu pun pamit.

Dalam perjalanan pulang, kau pun tersenyum. Ah, istrinya yang namanya pun kau tidak ingat sedikitpun, tidak lebih menarik dari kamu. Later, you'll call your friend to bitch about her. Dan wajah lucu anaknya... Ya, akan seperti itulah anakmu kelak seandainya kau menikah dengannya dan dikaruniai keturunan. Hhmmm...

Tuesday, May 12, 2009

SEX POLITICS

Dalam dunia politik, kita mengenal statement tidak ada teman ataupun lawan abadi, yang ada hanyalah kepentingan (baca: kemenangan) abadi. Karenanya, semua hal bisa saja terjadi dalam dinamika politik. Saling tikam dan saling jilat bukan merupakan sesuatu yang tabu lagi selama kepentingan bisa terakomodasi. Konsistensi statement politik pun menjadi sebuah keniscayaan langka yang tidak akan kita dapatkan keluar dari mulut para praktisi politik. Tidak heran jika kemudian sebagian orang menganggap bahwa politik adalah dunia kotor yang penuh dengan intrik.

Dalam dunia gay, hal serupa (walau tidak persis sama) terjadi. Terkadang kita harus mempolitisir seks demi mendapatkan kepuasan (baca: kemenangan) pribadi. Terkadang kita harus memusuhi orang yang tidak mau kita ajak nge-seks. Terkadang kita dibuat penasaran dan harus merasakan seks dengan orang yang menjadi musuh kita hanya karena karena salah seorang teman kita yang pernah ML dengan sang musuh tersebut menyampaikan apresiasi berlebihan. Terkadang pula kita harus menolak (walaupun sebenarnya ingin) cinta seorang laki-laki hanya karena dia pernah tidur dengan sahabat dekat kita.

Kamu tentu masih ingat dengan perasaan puas ketika telah all-out memberikan servis seks pada partner kencan-satu-malam yang karenanya kamu pun dipuji dan pada keesokan harinya sang temen kencan tersebut meminta seks dengan kamu lagi? Ya, kamu akan merasakan kemenangan tersendiri ketika (dikarenakan satu dan lain hal misal karena dia bukan tipe lelaki idamanmu) kamu menolak (baik dengan cara lebut maupun kasar) ajakan tersebut. Perasaan sebaliknya akan kamu rasakan ketika kamu merasa senang ML dengan seseorang dan ketika keesokan harinya kamu memintanya lagi dan dia tidak merespon ajakan tersebut. Well, life is a circle. What goes around will comes back aroud.

Di saat yang lain, ketika sedang menjalani sebuah komitmen dengan seorang pacar, kamu pasti pernah merasa kesal karena selama ini keadaan sepertinya membuat seolah-olah kamulah orang yang selalu meminta seks. Ini konyol, bukankah seks adalah sebuah kegiatan yang harus dilakukan atas kemauan berdua? You sick about it and want to make a change, kamu ingin agar pacar kamu menghiba untuk melakukan seks denganmu. Satu malam kamu membuat setting seolah-olah (atau mungkin kamu memang menginginkannya) kamu sangat menginginkan seks. Berbagai rayuan dan rangsangpun kamu lancarkan dan ketika sang pacar telah tebakar birahi (sebelum penetrasi tentu saja), kamu pun menghentikan aksimu dan berlalu. Ketika kemudian sang pacar bertanya kenapa, kamu menjawab tidak sendang ingin ML. Ketika kemudian sang pacar menghiba karena sudah birahi sampai ubun-ubun, dengan ogah-ogahan kamu bilang baiklah tapi dengan satu sarat bahwa seks kali ini dia yang meminta. Ketika kemudian kalian berdua melakukannya dan di pagi hari temanmu bertanya bagaimana seks semalam, kamu memaksa pacarmu untuk bercerita bahwa semalam dialah yang menginginkan seks tersebut.

Itulah sex-politics, sebuah trik yang harus kita mainkan untuk mendapatkan kepuasan selain sensasi seks itu sendiri. Pertanyaannya, apakah ada di antara para praktisi politik itu yang juga seorang gay? Dan kalau ada, apakah politikus handal itu kerap menerapkan konsep sex-politik sehandal mereka bertindak dalam dunia politik? Well, paling tidak penulis mempunyai satu nama yang di mata penulis terlihat seksi dan walaupun dia tidak gay (atau mungkin belum) gay, penulis bisa membayangkan dan berimajinasi ber-sex-pilitics-ria dengan sang politikus. Siapa dia? Demi menjaga nama baik sang politikus, penulis tidak akan menyebutkannya. Yang jelas, dia bukan poltikus karbitan yang memanfaatkan nama besarnya sebagai artis.

Friday, May 08, 2009

JALANG

Ketika seorang gay ditanya "Kapan terakhir ML?" dan dia membutuhkan lebih dari 3 detik untuk menjawabnya, maka itu artinya dia sudah tidak meniduri laki-laki dalam jangka waktu yang lama mungkin lebih dari satu minggu atau bahkan satu bulan. Eew... Seorang teman pernah berseleroh, "Hati-hati lho kalau sudah tidak ML lebih dari 2 minggu nanti kadaluwarsa."

Kondisi berkebalikan terjadi ketika seorang gay ditanya "Sudah berapa laki-laki yang kamu tiduri?" Ya, ketika dia membutuhkan lebih dari 3 detik untuk menjawab pertanyaan itu, maka paling tidak dalam satu minggu dia tidur dengan 2 orang laki-laki yang berbeda. Kalikan dalam satu bulan dan kalikan pula dalam satu tahun. Well, jumlahnya pasti lebih dari 300 orang. Demi melihat jumlah tersebut, hal pertama yang terlintas dalam otak adalah, "You're bitch!"

Pertanyaanya, berapa tepatnya jumlah laki-laki yang harus kita tiduri agar tidak kadaluwarsa juga tidak disebut jalang? Sure there's no exact number.

Mari kita tanya pada gay kadaluwarsa, apa alasan mereka jarang melakukan seks? Kemungkinan jawaban yang mereka ajukan adalah karena tidak bisa chatting (please, it' so 90's), kurang menarik dari segi fisik (then go find yourself a plastic surgery), kurang bisa berkomunikasi (note: it's just sex not like you gonna get married or something), atau sedang mencoba untuk setia dengan satu pasangan (ah... so sweet). Dari empat alasan tersebut di atas, dapat ditarik kesimpulan bahwa alasan mereka jarang melakukan seks lebih dikarenakan situasi dan kondisi. Kalau kepada mereka kita ajukan kemudahan untuk melakukan seks setiap hari, yakin mereka tidak akan menolak.

Kalau sudah begini, apakah daftar panjang laki-laki yang pernah kita tiduri layak membuat kita disebut jalang? Tentu saja tidak. We are a slut but we are not a whore. Seks adalah sebuah kebutuhan pribadi yang harus dipenuhi. Terlepas dari siapa yang kita tiduri (entah pacar atau mungkin suami orang) dan bagaimana cara kita mendapatkan teman tidur (entah menjebak atau mungkin merebutnya dari teman), tidak seorang pun bisa menyebut lacur atas aktivitas seks yang kita lakukan. Mereka mengatakan demikian hanya karena iri, itu saja tidak lebih.

So, grab your list and do not be afraid to add some new gay to your list. Yes honey, you are not a whore. It’s all just about full fill your needs. Do it!

Thursday, May 07, 2009

DICK QUEST

Some people live for the fortune, some people live just for the fame, some people live for the power, some people live just to play the game, some people think that the physical things define what's within, some people search for a fountain that promises forever young, some people need three dozen roses and that's the only way to prove you love them, some people want diamond rings, and some just want everything. How about you gay people? What are you really searching in this world? Wait, think I knew...

Akhir-akhir ini, penulis pernah berdiskusi tentang pentingnya ukuran Mr. P dalam dunia gay dan jawabannya seperti telah diperkirakan sebelumnya bahwa zise does really really really matter. Mungkin kaum wanita hetero terlalu takut (disebut jalang) untuk mengatakannya, tapi bagi bottom tidak perlu ada lagi yang harus ditakutkan. We need big dick! Adalah sangat munafik statement yang menyatakan bahwa yang penting itu bagaimana kita menggunakannya, bukan ukurannya. Well, cara Anda menggunakannya memang penting tapi akan lebih penting kalau yang Anda pergunakan tersebut memiliki ukuran yang memuaskan.

Anda tahu apa yang dibicarakan kalau dua orang bottom bertemu? Tidak lain adalah tentang seberapa besar, seberapa keras, dan seberapa kuat Mr. P yang ia kencani tadi malam. Bagian paling serunya adalah ketika mereka saling merekomendasikan Mr. P terbesar yang pernah mereka "rasakan" dan saling compare pengalaman masing-masing. What a juicy talk. Kalau sudah ngomongin yang satu ini, mereka pasti lupa waktu. Ya, pembicaraan akan berlanjut tidak hanya pada katagori Mr. P terbesar saja, tapi juga melebar pada Mr. P terpayah (kecil, liat, dan cepat keluar) yang pernah mereka temui. Eew....

Anda pikir, apa tujuan mereka kencan dari satu laki-laki ke laki-laki yang lainnya. Mencari cinta? Ya, kalau Anda menyebutnya demikian, tapi yang jelas mereka akan membandingkan satu Mr. P dengan Mr. P yang lain. Ketika satu hari ia menemukan satu ukuran tertentu MR. P yang tidak membuatnya puas, maka di hari yang lain ia akan berusaha mendapatkan lebih. Bahkan ketika ia mendapatkan ukuran Mr. P tertentu yang menurut pengalamannya adalah yang terbesar selama ini, well, mereka tidak akan pernah behenti mencari barangkali saja di luar sana masih ada ukuran Mr. P yang lebih besar. There's no harm on trying.

So, when some people live for the fortune-fame-and-power, well, gay people search for a bigger dick.

Wednesday, May 06, 2009

WISH ME FUCK

Suatu hari, temanmu curhat tentang permasalahannya dengan sang pacar. Setelah saling beradu argumen panjang dan tidak didapatkan titik temu, kata pisahpun terucap. Ego masing-masing membuat mereka pun berpisah tanpa berpikir panjang. Selang beberapa hari kemudia, rasa sepi dan kehilangan mulai datang dan drama pun dimulai. Dalam curhatnya dia menyatakan bahwa sebenarnya ia masih kanget tapi tidak mau disakiti lagi untuk yang ke sekian kalinya. Di sela isak tangisnya dia ingin kembali tapi dengan mengajukan segudang syarat yang tidak mungkin akan terpenuhi. Dan dalam ratapannya dia meminta agar kita menanyakan kabar sang mantan dan menceritakan penderitaannya supaya dia mau kembali. Sebelumnya, berbagai wejangan telah kita berikan namun toh sang teman seperti tidak menghiraukan dan jatuh pada duka yang sama, lagi dan lagi. Pada saat seperti ini, tindakan paling tepat untuk mengobati luka hatinya adalah dengan memberikan nomor telepon seorang laki-laki yang dirasa representatif (sesuai selera sang teman, red.) dan menyuruh sang teman segera menghubungi laki-laki tersebut. Di akhir pembicaraan ucapkan, "Have a nice fuck..."

Catatan: Cara melupakan seorang laki-laki adalah dengan menghadirkan laki-laki lain dalam hidupmu. Ketika hatimu tersakiti karena ulah seorang laki-laki, maka cara terbaik untuk mengobatinya adalah dengan meniduri laki-laki lain yang lebih baik dari laki-laki sebelumnya.

Di hari yang lain, kamu memiliki janji nonoton bareng temenmu yang lain. Dikarenakan satu dan lain hal, kau pun terlambat 12 menit. Walaupun kamu sudah meminta maaf atas keterlambatan tersebut, sang teman tetap cemberut. Sogokan soda dan pop-corn gratis pun tak mempan meredakan amarahnya. Setelah film selesai dan ending cerita tidak sesuai harapannya (well, harapannya adalah menyaksikan sang aktor utama menanggalkan pakaiannya dalam salah satu adegan), temperamennya pun semakin naik. "Rp. 15.000,- yang sia-sia.", demikian katanya. Tidak tahan dengan kelakuannya tersebut, kau pun bertanya, "Ada apa?" Satu per satu alasan ke-be-te-an-nya pun meluncur. Namun demikian, kamu berkesimpulan bahwa semua alasannya tersebut tidak memberinya hak untuk marah-marah seenaknya. Satu pertanyaan kunci yang harus kamu ajukan pada saat seperti itu adalah, "Kapan kamu terakhir ML?" Kalau jawabannya adalah lebih dari 3 hari yang lalu, segeralah temani dia mencari teman kencan di dunia maya. Ketika kemudian terpilih beberapa kandidat dan sang teman sudah siap untuk ketemuan, katakan untuk tidak menunda hal itu dan katakan pula, "Wish you fuck..."

Catatan: Ketika seorang gay dilanda be-te, maka 85% alasannya adalah karena dia belum melakukan hubungan seks.

Di hari yang lainnya lagi, seorang misterius yang telah satu minggu berkenalan via SMS mengajakmu ketemuan. Dari perkenalan via SMS tersebut, diketahui beberapa hal tentang dia yang membangkitkan rasa penasaran (juga hasrat seksual, red.) dalam diri kamu. Setelah memilih waktu dan tempat yang tepat, akhirnya kalian pun mengatur janji bertemu. Seorang teman kemudian menelpon untuk sekadar bergosip ngalor-ngidul. Segera cut pembicaraan itu. Katakan padanya bahwa kamu ada janji dengan seseorang yang kamu sendiri belum tahu penampakan sang teman misterius ini. Berpesanlah pada temanmu itu untuk menelponnya 15 lagi untuk berjaga-jaga siapa tahu orang yang akan kamu temui itu ternyata tidak membuatmu berselera dan dengan demikian kamu bisa berpura-pura bahwa telepon dari temenmu itu adalah telepon penting dari kakak atau ibumu yang mengharuskanmu segera pulang karena ada urusan keluarga. Namun demikian, jangan lupa meminta temanmu untuk mendoakan, "Wish me fuck..."

Pertanyaanya, masihkah kita memerlukan doa ketika akan melakukan dosa? Well...

Tuesday, May 05, 2009

CINTA, SEKS & PERSLINGKUHAN

Seorang teman pernah berfilosofi, "Dalam dunia gay, cinta dan seks adalah dua hal berbeda yang harus dibedakan. Cinta adalah sebuah komitmen kepada pasangan yang harus dijunjung tinggi, dengan atau tanpa seks di dalamnya. Sementara itu, seks adalah sebuah kebutuhan yang dapat dipenuhi, tidak harus dengan pasangan tapi bisa dengan siapa saja." Dahi penulis berkerut. Penjelasan selanjutnya lebih dari membuat dahi berkerut. Katanya, "Itulah sebabnya kenapa gue tetap tidur dengan lelaki lain selain BF dan gue tidak menyebutnya perselingkuhan. Selama hal tersebut dilakukan dengan hati-hati tanpa sepengetahuan sang pacar dan kita lebih mengutamakan kepentingan pacar, no problemo." What?! Kepada sang teman penulis hanya berkata, "Can I just call you a slut?"

Memang benar, dalam dunia gay, seks dapat dilakukan dengan siapa saja tanpa melibatkan hati di dalamnya. Toh berdua mereka suka sama suka, rela sama rela. Kalau pada malam itu mereka ML dan kelak di kemudian hari ketika mereka bertemu lagi dan bertingkah selah tidak pernah terjadi apa-apa, maka hal tersebut sah-sah saja. It's all just a casual sex. No string attached. Lalu apa masalahnya? Ok, di bagian seks-tidak-harus-melibatkan-cinta, penulis setuju. Tapi ketika sampai pada bagian seks yang dilakukan selain dengan BF dan hal tersebut tidak dikatagorikan perselingkuhan, dengan tegas penulis menolak. No Way.

Secara personal, penulis pernah beberapa kali menjadi korban perselingkuhan. Di satu titik penulis pernah berkontemplasi. Apakah ini gara-gara penulis terlalu tinggi mematok keseriusan komitmen yang dijalani dengan sang pacar waktu itu? Apakah penulis tidak terlalu naif dengan mamasang kesetiaan sebagai sebuah harga mati dalam sebuh hubungan? Dan apakah terlalu banyak menonton serial opera sabun sehingga melupakan realita bahwa kesetiaan dalam dunia gay adalah sebuah kemewahan yang tidak semua gay bisa mendapatkannya? Sisi lain dalam diri penulis bersikukuh. Kalau memang bisa menjalani itu semua, lantas apa arti komitmen yang dijalankan? Kalau memang kamu masih mau menikmati seks dengan lelaki lain, tidak usah mengikatkan diri dalam sebuah komitmen.

Seingat penulis, tidur dengan orang lain selain pasangan dengan atau tanpa dilandasi cinta itu masih dikatagorikan sebagai sebuah perselingkuhan dan perselingkuhan adalah sesuatu yang terlarang dalam setiap jalinan cinta, baik homo maupun hetero. Lantas di bagian mana perbuatan tersebut bisa dikatakan no problemo karena ketika perbuatan tersebut diketahui oleh pasangannya, maka sang pasangan akan terluka. Cinta mana yang membiarkan orang yang dicintainya terluka? Ketika seseorang sudah berani tidur dengan orang lain itu pertandan bahwa cintanya untuk pasangan sudah berkurang kalau tidak mau dikatakan luntur sama sekali.

Kepada seorang teman penulis bernah berkata, "Sekali seorang laki-laki berselingkuh maka dia sudah tidak layaklagi untuk dipertahankan. Let him go and find another man."? Menurut pengalaman penulis, memberikan kesempatan kedua hanyalah akan memperdalam luka yang kelak dikemudian hari akan berdarah lagi. Believe me, you'll see...

Wednesday, April 08, 2009

PRETTY BOYS

Salah seorang kenalan (kali ini bukan gay dan dia adalah seorang wanita) pernah bercerita bahwa beserta sang suami dia mendatangi satu jalan di Ibu Kota yang belum pernah ia lewati sebelumnya di malam hari. Ketika sedang menunggu lampu lalu lintas menyala merah, ia dan sang suami mengamati keramain di pinggir jalan tersebut. Satu hal yang mencolok perhatian adalah sebagian besar orang yang nongkrong atau berlalu lalang di sekitar situ adalah laki-laki. Awalnya dia tidak curiga sedikitpun, namun ketika dilihatnya banyak diantara mereka yang asik berdua bahkan cenderung bermesra-mesraan, terbukalah matanya. Ya, jalan yang dimaksud terkenal sebagai salah satu tempat nongkrong gay di Jakarta. Apa yang dikatakannya kemudian sungguh membuat penulis tertawa geli, tapi ditahan. Ia berkata, "Sungguh sayang sekali, padahal mereka itu memiliki wajah tampan dan bentuk tubuh yang atletis atletis. Dengan kombinasi dua hal tersebut, mereka akan dengan sangat mudah mendapatkan wanita sebagai pacarnya. Alih-alih menggunakan anugerah fisik yang dimiliki untuk menggaet wanita, mereka malah asik bermesraan dengan sesama laki-laki. Sungguh disayangkan."

"Ha ha ha...", dalam hati penulis tidak kuat menahan tawa. Bagaimana tidak? Ketika kaum hetero menyayangkan seorang pria tampan yang menjadi gay, pada saat bersamaan pria yang disayangkan tersebut merasa bersyukur dianugerahi fisik rupawan sehingga memudahkannya mendapat kencan dengan sesama laki-laki. Penampilan menawan menjadi modal tersendiri dalam bertahan hidup (baca: mendapatkan seks dengan lebih banyak laki-laki) dalam dunia gay. Itulah sebabnya, pria-pria gay kerap berlomba "mempercantik" fisiknya apalagi tujuannya kalau bukan untuk menarik perhatian sesama lelaki. Mau bagaimana lagi, lelaki memang mahluk visual yang lebih mengutamakan kesempurnaan fisik dibandingkan yang lainnya.

Di kesempatan yang lain, seorang teman (kali ini gay tulen) pernah berkata, "Sebaiknya dia menjadi gay." demi melihat seorang lelaki tampan melintas di depan kami. Tentu saja, penulis meng-amin-kan ucapan (yang lebih terdengar sebagai doa dan harapan) tersebut. Bukankah anugerah kesempurnaan fisik yang ia miliki akan lebih banyak dinikmati orang (baca: gay) lain ketika dia menjadi homo dari pada ketika dia menjadi laki-laki hetero? Ingat, wanita adalah makhluk emosional yang lebih menempatkan perasaan di atas segalanya.

Ah, sepertinya tidak ada pilihan bagi para lelaki tampan itu: dengan suka rela menjadi gay atau kalau tidak akan didoakan (atau mungkin dibuat, apapun caranya) agar menjadi gay. Karena itu, berhati-hatilah wahai laki-laki tampan yang belum menjadi gay karena cepat atau lambat saat itu akan segera tiba. Saat dimana kalian menyadari bahwa ketampananmu akan sangat berarti ketika kalian menjadi gay.