Saturday, January 10, 2009

SUPERGAY

Kalau kamu diberi kesempatan menjadi superhero dan disuruh memilih, kekuatan apa yang akan kamu gunakan dalam menjalankan tugas sebagai SuperGay? Just so you know, SuperGay berbeda dengan karakter superhero lain yang memiliki tulang sekeras baja, atau mengeluarkan jari serupa laba-laba atau memebesar seperti raksasa hijau, atau berkekuatan serupa binatang.

Ultra Fag-Vision
Karakter yang satu ini memiliki kekuatan penglihatan x-ray. Dia dapat melihat semua benda tersembunyi atau terhalang benda lain. Jangan sekali-laki kau berbohong mengenai ukuran Mr. P mu saat pertama berkenalan dengan karakter yang satu ini karena dengan sekali lirik dia sudah mengetahuinya.

InvisibleGay
That's right. Karakter ini dapat membuat dirinya menghilang dari pandangan kasat mata dan menyelinap ke berbagai tempat. Hati-hati, ketika kau sendirian di dalam sebuah ruangan dan melakukan hal-hal konyol seperti bermasturbasi sambil menonton film bokep, jangan terlalu yakin kau benar-benar sendirian. InvisibleGay bisa saja ada di sebelahmu dan menertawakan yang sedang kau lakukan. Kalau sedang berbaik hati, maka kau akan dibantu menyelesaikan pelepasan hasrat tersebut, kalau tidak kau akan dijahili.

MindController
Bukan hanya memiliki kekuatan untuk mengetahui apa yang sedang dipirkan orang lain, tapi karakter yang satu ini juga dapat mengarahkan alam bawah sadar orang tersebut agar mengikuti keinginan otaknya. Bertemu dengan karaker ini berarti harus berhati-hati karena kamu dapat diperbudak untuk menuruti semua perintahnya tanpa ada kuasa untuk menolak, if you know what i mean...

FlamBoy
Adalah karakter flamboyan yang kerap berpenampilan look-alike-lady. Namun demikian, kita tidak bisa meremehkannya karena sekali dia diganggu maka dengan seketika karakter kelelakiannya keluar. Kalau sudah begini, jangan sekali-kali berurusan dengannya karena sekali kibas, musuh-musuhnya akan berjatuhan. Ingat, ia menguasai karate, wushu, kungfu yang dipadukan dengan kelenturan balet dan kelincahan salsa. Bayangkan kerusakan yang akan terjadi kalau karkter yang satu ini kau usik dan mengeluarkan semua jurus andalannya tersebut.

CaptainFast
Yang satu ini dapat berpindah dari satu tempat ke tempat lain dalam hitunggan detik. Tidak heran ketika kemudian, CaptainFast sanggup berkencan dengan beberapa laki-laki dalam waktu hampir bersamaan. Ya, kekuatan yang ia miliki memungkinkannya makan siang dengan satu pria dan pada saat yang bersamaan berduaan di taman dengan pria lain tanpa disadari oleh kedua pria tersebut. Penulis yakin, pembaca sudah mahfum dengan apa yang akan dilakukan CaptainFast di tempat tidur, benarkan?

Sebentar. Kalau kita Supergay, siapa yang harus kita selamatkan, siapa yang harus kita lawan, dan misi apa yang kita jalankan? Tentu saja, SuperGay mempunyai misi untuk menyelamatkan semua laki-laki di dunia ini dari jerat seksual kaum wanita. Tugas yang tidak mudah, bukan?

Friday, January 09, 2009

STILL GAY ANYWAY

Ketika bertemu dengan seorang teman lama (gay, tentu saja), pertanyaan apa yang akan kau ajukan? "Apa kabar?", "Kerja di mana sekarang?", "Sudah menikah?", atau "Sudah berapa anaknya sekarang?" Too hetero, isn't it? Sebagai seorang gay, appropriate question pada situasi seperti tersebut di atas adalah, "Hi! Are you still gay?" Mengapa kita harus bertanya seperti itu? Well, kabarnya seorang gay bisa berubah menjadi tidak gay, lagi tentu saja dikarenakan beberapa alasan. Really?! Not quite sure, but let's take a look.

Ketika keluarga yang kita sayang (dalam hal ini orang tua, ayah ataupun ibu) meninggal, hal yang mungkin ada di otak seorang gay adalah untuk berhenti menjadi gay sebagai bakti kepada orang tua yang telah meninggal. Kalau selama hidupnya kita kerap mengabaikan nasihat mereka, maka sepeninggalnya ingin rasanya kita patuhi semua wejangannya, termasuk dalam hal ini keinginan menjadi anak laki-laki seperti yang mereka harapkan. Tentu saja, setiap orang tua tidak mengharapkan atau tidak mau menerima kalau anak laki-lakinya tumbuh menjadi seorang gay bukan?

Aktivitas seks yang kaum homo membuat kita rentan terserang berbagai jenis penyakit kelamin, HIV/AIDS adalah yang paling menyeramkan. Semua gay aware akan hal itu, tapi kita tetap melakukan seks mengingat dorongan birahi kadang mampu mengalahkan logika yang ada di kepala. Ketika kemudian seorang gay terserang salah satu penyakit kelamin, hal pertama yang ada di kepalanya adalah untuk segera berhenti menjadi gay. Ia beranggapan bahwa penyakit yang ia derita adalah semacam kutukan yang mengharuskannya menyudahi semua petualangan seks homoseksualnya selama ini.

Mencintai dan dicintai, memutuskan dan diputuskan, mengkhianati dan dikhianati, serta membohongi dan dibohongi dalam kisah percintaan kaum gay sepertinya telah menjadi mata rantai-mata rantai yang saling berkaitan. Pada satu titik kita menganggapnya wajar sebagai sebuah bumbu percintaan. Namun ketika hal tersebut terjadi berulang-ulang tanpa ada tanda-tanda mengarah ke hal yang lebih baik, pada titik ini seorang gay akan berpikir, "Apa tidak sebaiknya aku berhenti saja menjadi gay dan mencari pacar atau istri (seorang perempuan, tentu saja) yang tidak sebrengsek laki-laki yang bisanya hanya menyakiti hati kita saja."

More or less, tiga kondisi tersebut di atas yang dapat membuat seorang gay berpikir untuk berhenti menjadi gay. Pertanyaanya, apakah mereka benar-benar berhenti ketika mengalami ketiga atau salah satu kondisi tersebut di atas? Well, kabar baiknya di samping tiga kondisi yang dapat mempengaruhi seorang gay untuk bertobat, ada pula sekian (penulis dapat memastikan bahwa alasan tersebut lebih dari tiga) kondisi yang dapat mengubah seorang mantan gay kembali kenjadi homo. Seks adalah satu dari sekian alasan tersebut.

Jadi, suatu hari nanti kamu bertemu dengan teman gay lamamu, pastikan kau bertanya apakah dia masih gay atau tidak. Sekadar memastikan.

Thursday, January 08, 2009

GAY'S DESPERATE MOMENTS

Siapa bilang hanya para istri di Wisterialane saja yang bisa desperate? Siapa bilang hanya Susan Mayer (diperankan oleh Teri Hatcher) yang meski sudah berbuat segalanya untuk sang suami tapi masih tetap saja desperate ketika perbedaan prinsip membuatnya harus rela menceraikan sang suami yang masih sangat ia cintai? Siapa bilang hanya Bree Hodge (diperankan oleh Marcia Cross)yang meski sudah berusaha sebaik mungkin menjadi ibu yang baik bagi kedua orang anaknya tapi tetap saja desperate manakala anak-anaknya tumbuh dewasa tidak sesuai dengan keinginannya? Siapa bilang hanya Lynette Scavo (diperankan oleh Felicity Huffman) yang meski berjibaku membesarkan, mendidik, dan mengawasi keempat orang anaknya tetapi tetap saja desperate karena kadang harus memainkan peran ayah karena sang suami tidak bisa bersikap tegas terhadap anak-anaknya? Siapa bilang hanya Gabrielle Solis (diperankan oleh Eva Longaria) yang meski dengan kecantikannya dia bisa mendapatkan kemewahan hidup namun tetap saja desperate manakala dia terjebak hidup bersama sang suami yang sekarang jatuh bangkrut dan dua orang anak yang pada awalnya tidak ia harapkan?

Ternyata, seorang gay pun bisa desperate juga. Really? Ya ha! Ingat, gay juga masih manusia bukan? Hanya memang, alasan seorang gay desperate bukan karena kasus perceraiannya dengan sang suami atau melihat anak-anaknya tumbuh tidak sesuai dengan keinginan atau harus tegar dan kadang mengambil peran suami dalam mendidik anak-anak atau terjebak dalam rumah tangga pas-pasan dan anak yang semula tidak diharapkan. Lantas, situasi bagaimana yang membuat seorang gay dilanda desperate? Berikut beberapa situasi tersebut.

Pertama, ketika seorang gay sudah tiga hari atau lebih tidak ML dan dia sudah selama tiga jam nongkrong di warnet untuk chatting tapi tetap belum satu pun partner kencan ia dapatkan. Segala aksi sudah ia lakukan, mulai dari memasang nick yang se-murahan mungkin, merayu hampir semua orang yang ada di chat-room, pamer foto-foto terbaru dan "menantan" di friendster, atau flirting pada orang di chat-room yang sama sekali bukan tipe dia banget. Pada saat seperti ini, biasanya ia akan mengajak siapa pun (termasuk orang yang secara fisik tidak menarik sama sekali) untuk diajak ke tempatnya dan melampiaskan hasrat seksualnya. Jadi, bagi kamu yang sadar merasa penampilan kurang ok tapi pada malam itu mendapat teman kencan yang sangat ok, jangan bangga dulu. Anggap saja malam itu kamu sedang beruntung.

Kedua, entah dia tahu nomor kamu dari mana, seseorang yang misterius kerap menelpon atau pun kirim SMS. Isinya, mulai dari basa-basi selamat pagi/siang/sore/malam, ucapan selamat makan/kerja/nonton tv/tidur, sampai ucapan mesra yang memang ditujukan untuk mengundang birahi. Ketika kemudian ia ditantang untuk bertemu langsung, degan segala alasan ia menghindar. Mulai dari sedan jalan sama teman, harus lembur, sedang mengantarkan saudara ke satu tempat, sedang ada di luar kota, sampai alasan yang mengada-ada seperti tidak bisa langsung nge-seks pada pertemuan pertama. What the hell! Kalau sudah begini, film bokep kadang membantu untuk melampiaskan birahi yang memang sudah seubun-ubun. Thank God!

Ketiga, setelah sekian puluh laki-laki yang kita tiduri, kita berharap salah satu dari mereka menginginkan kita lebih dari sekadar seks. Kita berharap salah satu dari mereka datang ke tempat kita suatu malam sambil membawa bunga dan cincin pertunangan. Ia berlutut di hadapan kita sambil berkata, "Will you marry me?" Akan tetapi, hal tersebut sepertinya masih terlalu jauh mengingat orang yang kita suka datang untuk kedua kalinya memang hanya ingin menikmati seks semata. Tunggu saja sampai dia bosan dan dijamin pada saat itu dia tidak akan pernah lagi mengirim SMS sok care seperti yang ia lakukan selama ini.

Keempat, kita telah memberikan banyak kesempatan (bukan hanya yang kedua) kepada pacar kita untuk memperbaiki kesalahannya, mulai dari sifatnya yang kekanak-kanakkan, kecurigaan dan kecemburuannya yang berlebihan, permintaannya yang harus selalu dituruti, sampai kebodohannya tidur dengan seseorang yang kita kenal. Khusus untuk yang terakhir, kita sudah wanti-wanti. Kalau sampai hal tersebut terjadi lagi, kita mengancam putus. Tapi toh kita memaafkannya juga (walau tentu saja tidak bisa melupakannya) dan dia kembali melakukan hal serupa dengan orang lain yang masih kita kenal. Kabar buruknya, memaafkan adalah sebuah perbuatan yang melelahkan. Jadi jangan salahkan ketika kemudian pada suatu titik kita sudah tidak dapat lagi menanggung perbuatan tersebut.

Kelima, secara tidak sengaja kita bertemu dengan mantan (yang kita campakkan) sedang menggandeng laki-laki lain sementara kita masih jomblo sedangkan kita selalu berangan-angan agar ketika suatu hari nanti bertemu dengan mantan tersebut kita sedang menjalin hubungan dengan seorang laki-laki yang lebih baik sehingga hal tersebut akan membuatnya jealous. Pada saat seperti ini, tidak ada yang dapat kita lakukan selain berbasa-basi-busuk menanyakan kabar masing-masing. Dalam hati, kita membisikkan doa (atau sumpa serapah?) agar hubungan mereka segera putus. That's right!

Keenam, suatu hari kita menerima undangan pernikahan dari seorang mantan pacar yang harus kita putuskan karena keinginannya untuk hidup sebagai laki-laki "normal". Pada hari H, kita pun datang and reallity bite. Ternyata sang mantan nampak bahagia didampingi perempuan yang ia pilih duduk di pelaminan. Segera mereka akan membina rumah tangga, menempati rumah yang ia cicil yang ketika survey dulu kita yang mendampingi, serta memiliki anak yang akan menjadi buah hati mereka. Selama ini kita menghibur diri bahwa pernikahan tersebut hanya kepura-puraan dan tidak akan sanggup bertahan lama karena dia masih mencintai kita. Kenyataannya tidak. Dia telah melanjutkan hidupnya dan kita seperti tertinggal di belakang dengan segenap romantisme picisan yang hanya ada di kepala kita.

Ah... Sepertinya sudah saatnya kita membuat serial sendiri mengenai para gay yang dilanda desperate karena beragam permasalahan tersebut. Apakah di luar sana ada produser yang berkenan mendanai?

Wednesday, January 07, 2009

KARMA

Adalah sebuah konsep lingkaran perbuatan buruk yang suat saat akan terjadi pada kita manakala kita melakukannya pada orang lain. Karenanya, kita dianjurkan untuk selalu berbuat baik kepada orang lain kalau tidak mau suatu saat sesuatu yang buruk terjadi pada kita. Tentu saja, pada prakteknya kemudian, manusia tidak dapat dengan begitu saja melakukan perbuatan baik sepanjang hidupnya. Entah disengaja atau tidak, mereka kerap melakukan perbuatan buruk kepada orang lain dan ketika sesuatu yang buruk menimpa, dengan enteng mereka berkata "Aku tidak layak mendapat karma seperti ini." Ah, manusia...

Sebagai seorang manusia, apakah konsep karma tersebut di atas juga berlaku pada kehidupan gay? Apakah seorang gay yang melakukan perbuatan buruk pada gay lainnya pada suatu saat akan tertimpa perbuatan buruk serupa yang pernah dilakukannya pada gay lain? Mengingat seorang gay bukanlah ulama atau pendeta, bayangkan kejadian buruk apa yang anak menimpa seorang gay kalau konsep karma tersebut benar-benar bekerja.

Now it's time to flash your memory back. Have you ever stood someone up? Pada satu janji kencan buta, kamu muncul diam-diam untuk memastikan teman kencan kamu ok. Ketika ternyata orang yang dimaksud tidak atau kurang menarik, kamu pun menyelinap pergi secara diam-diam. Tidak lupa kamu matikan HP agar teman kencan yang kau tinggalkan tidak bisa menghubungimu untuk menyumpah-serapahi kamu. Pertanyaanya, tidak kah kau khawatir suatu saat orang lain melakukan hal serupa terhadapmu?

Have you ever slept with someone who has boyfriend or even wife? Ketika berkenalan, terang-terangan ia menjelaskan kalau saat ini sedang menjalani komitmen dengan pacar laki-lakinya atau bahkan ia telah menikah dengan seorang perempuan dan dikaruniai anak. Namun toh ternyata hal itu tidak menyurutkan birahimu untuk menidurinya. Perkara ia memiliki pacar atau bahkan istri, itu bukan masalah besar. Justru, petualangan seksmu dengan laki-laki beristri seolah mengukuhkan teori yang kau yakini bahwa para suami itu lebih menikmati seks dengan laki-laki dari pada sang istri. Pertanyaanya, tidak kah kau khawatir bahwa suatu saat pacar lelakimu selingkuh atau istrimu tidur dengan laki-laki lain?

Have you ever full fill your fantasy by slept with the youngest boy you can get? Siapa yang tidak tergiur untuk memberikan pengalaman seks pertama bagi seorang brondong? Bagi kamu, bisa meniduri seorang brondong adalah sebuah kebanggan tersendiri yang akan kau ceritakan kepada teman-temanmu untuk mendapatkan sanjungan. Pertanyaannya, tidak kah kau khawatir bahwa suatu saat adik laki-laki, keponakan laki-laki, atau bahkan anak laki-lakimu yang berusia belasan dipeleteki oleh seorang laki-laki seusiamu?

Have you ever say no to some one who say he loves you? Dengan berbagai alasan kamu menolak. Mulai dari belum-dapat-melupakan-manta lah, lagi-pengen-sendiri lah, lebih-baik-bersahabat lah, sampai dengan omong kosong tentang aku-bukan-tipe-laki-laki-yang-menyukai-komitmen. Janjinya untuk membahagiakanmu tidak membuat kamu berubah fikiran. "Terima kasih telah menungkapkan perasaanmu tapi aku tidak bisa memenuhi permintaanmu. Aku yakin, suatu saat kamu akan mendapatkan laki-laki yang lebih baik dari aku.", Dialog dari salah satu adegan sinetron menjijikkan pun kau kutip demi segera terbebas dari todongan. Pertanyaannya, tidak kah kau khawatir bahwa suatu hari pernyataan cintamu pada seorang laki-laki ditolak mentah-mentah?

Karma mungkin saja terjadi dalam kehidupan homoseksual. Namun demikian, para gay tidak terlalu mengambil pusing dengan hal ini. Bagaimana tidak, waktu mereka sudah cukup terkuras untuk mencari teman untuk tidur malam ini. Perkara karma, nanti saja dipikirkan kalau otak ini sanggup mengalahkan birahi. Dan kita tidak tahu kapan hal itu akan terjadi.

Tuesday, January 06, 2009

THE "IT" GAY

Apa yang harus dilakukan seorang gay agar mudah mendapatkan teman-kencan-semalam atau bahkan pacar? Apakah dia harus memiliki muka baby-face, berkulit putih bersih, rambut lurus yang selalu tertata dengan baik, tinggi dan berat badan proporsional, dada bidang dan perut rata ber-enam persegi, bokong montok, Mr. P berukuran di atas rata-rata, serta menguasai berbagai gaya bercinta? Apakah dia harus berwawasan luas, memiliki prestasi akademik yang membanggakan, tahu perkembangan politik-ekonomi-sosial-budaya semua negara, serta tahu pemenang Grammy ataupun Oscar dari tahun ke tahun? Apakah dia harus berkepribadian menari, pandai bergaul, ramah dan murah senyum, serta enak untuk diajak ngobrol?

Sudah menjadi kodratnya bahwa laki-laki adalah mahluk visual. Karena itulah, kaum wanita berlomba-lomba mempercantik visualisasi diri mereka demi mendapat perhatian kaum Adam tersebut. Apakah teori tersebut di atas berlaku pula pada pria gay? Tentu saja jawabannya adalah YA! Dan sudah menjadi keharusan pula bagi setiap laki-laki gay untuk tampil semenarik mungkin di mata laki-laki lain.

Seorang perempuan di salah satu pusat perbelanjaan di Bandung pernah nyeletuk, "Sayang ya? Cakep-cakep kok gay." ketika melihat seorang laki-laki tinggi kekar dan ber-T-shirt ketat melintas. Dalam hati, penulis berkata "Da...?!" Kata siapa menjadi gay tidak boleh ganteng? Sebaliknya, kaliah (para wanita) harus curiga ketika melihat seorang laki-laki ganteng, berotot, dan berpakaian serba necis. FYI, he could be a gay.

Kalau ganteng adalah sebuah penilaian yang relatif dan subjektif, maka seorang gay harus memiliki penampilan menarik secara fisik. Karenanya, pembentukan badan di gym atau perawatan tubuh ke salon adalah ritual wajib para gay. Apalagi tujuannya kalau tidak untuk menarik perhatian laki-laki lain? Adalah sebuah kebanggaan tersendiri bagi seorang gay ketika mata laki-laki melotot ke arahnnya tidak berkedip.

Pertanyaannya, untuk menjadi gay yang diinginkan semua laki-laki, apakah penampilan fisik merupakan segalanya? Jawabannya tidak. Mungkin penampilan fisik merupakan modal utama, tapi tidak segalanya. Seorang gay dituntut juga kecerdasannya. Bagaimana tidak, pergaulan dunia gay yang menyerempet bahaya menuntut kita untuk cerdas menganalisis berbagai situasi dan kondisi. Tindak kejahatan dalam dunia gay kerap terjadi meski kita tidak bisa men-generalisasi bahwa semua gay adalah kriminal. Mengenai seorang gay yang harus smart, penulis pernah membahasnya di artikel sebelum ini.

Faktor lain yang menjadikan seorang homo layak disebut sebagai the "it" gay adalah cara dia menjalin hubungan antarpersonal. Terkadang, gay jenis ini tidak segan buang-buang pulsa untuk melakukan pendekatan via telpon ataupun sms. Pertanyaan seperti, "Pa kabar?", "Gi ngapain?", "Dah makan belum?" atau pernyataan seperti, "Selamat pagi/siang/sore/malam.", "Hati-hati di jalan, ya.", "Selamat malam. Semoga mimpi indah." dan berbagai ungkapan lain yang menandakan ia care banget kerap dilancarkan. Bagaimana kemudian orang yang diberi semua perhatian tersebut tidak luluh?

Sedikit catatan kecil. Sebagaimana semua teori yang ada di dunia ini yang pasti memiliki x factor sebagai faktor diluar perhitungan yang tidak bisa dijabarkan namun mempengaruhi hasil akhir teori yang bersangkutan, teori variabel the "it" gay tersebut di atas yang terdiri dari brain-beauty-behaviour memiliki juga the x factor. Untuk mendapatkan parner seks, seorang gay kadang hanya membutuhkan faktor luck, dan faktor luck tersebut adalah tingkat ke-horny-an yang bersangkutan. Kalau faktor ini sudah berbicara, lupakan semua faktor 3B tersebut di atas. Ketika seorang gay sedang horny berat, terkadang orang yang biasa-biasa saja (kalau disebut jelek terlalu kasar) terlihat ganteng di matanya dan kita tidak harus membantahnya.

Jadi, kembali ke pembahasan semula. Apa yang harus dilakukan seorang gay untuk menjadi the "it" gay? Well, penulis akan membiarkan hal ini menjadi pertanyaan terbuka yang dapat direspon oleh semua gay tanpa harus merasa dibatasi.

Monday, January 05, 2009

FOR YOU, PARENTS...

Dalam sebuah kesempatan bincang-bincang dengan salah seorang narasumber, penulis berdiskusi mengenai bagaimana menerapkan pola asuh yang baik terhadap anak sehingga nantinya kelak ketika dewasa sang anak tidak mengalami perkembangan menyimpang, dalam hal ini tumbuh dewasa menjadi seorang gay. Menurut sang narasumber, yang notabene adalah seorang psikolog, cara kita menyentuh atau membelai anak dapat mempengaruh preferensi seksualnya ke depan. Misalkan, ketika seorang ayah membelai bagian-bagian tubuh tertentu anak laki-lakinya dan sang anak menikmati sentuhan tersebut, maka kelak ia akan mencari sensasi kenikmatan tersebut dari laki-laki lain. Penulis pun tercenung, sedemikian rentan dan rumitkah?

Dalam kesempatan tersebut, sang narasumber mengungkapkan keinginannya untuk menulis buku mengenai hal itu dan mendaulat penulis sebagai editor. Dengan berapi-api, sang psikolog menjelaskan alasan A sampai Z mengenai pentingnya pengetahuan pola asuh yang baik dan benar tersebut. Masih menurut beliau, awam kadang hanya cukut tidak memperbolehkan anaknya melakukan permainan yang biasa dilakukan lawan jenisnya dan itu sudah cukup. Awam cukup melarang anaknya laki-lakinya bermain boneka atau lompat tali atau mendandani anak tersebut selayaknya anak perempuan dan itu dirasa sudah cukup membentenginya dari penyimpangan seksual. Masih menurut sang psikolog, ketika seorang anak laki-laki bermain boneka, hal tersebut tidak dapat secara serta merta membuatnya menjadi seorang gay kelak di kemudian hari. Sebaliknya, yang dapat menjadi pemicu seorang anak tumbuh menyimpang secara seksual adalah hal-hal kecil yang kadang luput dari perhatian kita semisal belaian seperti disebutkan di atas.

Tanpa meremehkan teori sang psikolog, penulis tersenyum. Dalam hati, penulis berkata, "Oh my God! There's so much you don't know, Missy. Mungkin yang kau katakan tersebut berdasarkan teori dari bangku kuliah maupun literatur yang kau baca. Tapi sekali lagi, kau tidak tahu sama sekali bagaimana rasanya menjadi seorang gay. And FYI, being a gay is not that terrible, you know.

Sebuah ide (sebut saja gila) kemudian muncul. Dari pada kita sibuk mengeliminir sekian banyak aspek pemicu seorang anak dari menjadi gay, apakah tidak lebih baik kita mempersiapkan orang-orang di sekitar anak tersebut (misal orang tua) untuk dapat menerima kenyataan bahwa anaknya "spesial". Penulis berpendapat bahwa sebesar apapun usaha orang tua melindungi anaknya agar tidak menyimpang secara seksual, mereka tidak dapat seratus persen membuat sang anak steril dari pengaruh homoseksualitas yang sangat mungkin menjangkitinya di dunia luar, misal pertemanan. Mungkin semasa usianya masih tergolong anak-anak, sang putra kesayangan masih dekat dan ketergantungan kepada orang tua masih sangat kental. Namun menginjak usia remaja, sebagaimana kita semua mafhum, seorang anak akan lebih memiliki kedekatan dengan teman-temannya daripada orang tua. Pada masa ini, banyak yang hal bisa dilakukan seorang remaja yang tidak diketahui orang tuanya termasuk ketiak sang remaja mencoba mengeksplorasi bakat terpendamnya menjadi gay.

Satu hal yang tidak boleh dilupakan adalah bahwa ketika seorang anak tumbuh menjadi gay, dia tidak akan pernah mempersalahkan orang tuanya. Seorang gay sadar bahwa tidak ada yang dapat dilakukan untuk mengubah preferensi seksualnya termasuk dengan menyalahkan pola asuk orang tuanya semasa ia kanak-kanak. Yang dibutuhkan seorang gay dari orang-orang terdekatnya (terlebih orang tua) adalah penerimaan dan kemauan untuk memahami apa adaya. Orang tua boleh saja tidak menyetujui preferensi seksual anaknya (karena seorang gay tidak akan pernah memaksakan hal itu) namun demikian orang harus mampu menerima kenyataan bahwa anaknya adalah seorang gay.

Ah, ide tersebut di atas harus menjadi sebuah buku. Sudah saatnya masyarakat kita memiliki literatur yang akan mengajari mereka bagaimana memperlakukan anaknya yang tumbuh menjadi gay. Para orang tua juga harus belajar bagaimana menjadi orang tua yang baik bagi anak gay-nya. Orang tua harus mempu memahami pilihan anaknya untuk menjadi gay dan bukannya menentang dengan menjatuhkan vonis dan berbagai hukuman yang alih-alih membuat sanga anak jera malah sebaliknya. Yang tidak kalah penting adalam bagaimana menyiapkan pola pikir orang tua agar dapat menerima preferensi seksual anaknya.

Hhmmm... Apa kira-kira judul yang tepat untuk buku tersebut? "Panduan Bagi Orang Tua yang Memiliki Anak Gay" atau "Langkah Mudah Menjadi Orang Tua Keren bagi Anaknya yang Gay" atau "Bagaimana Memahami Seorang Anak Gay"?

Friday, January 02, 2009

HAPPY NEW YEAR

Setahun yang lalu, penulis memulai blog ini dengan hati berkeping dan perasaan serba tidak menentu. Bagaimana tidak, di tahun 2008 penulis mengalami dua kali drama patah hati sama-sama tragis. Yang pertama, penulis dijadikan sebagai selingkuhan dan ternyata hal tersebut tidak membuatnya menjadi satu-satunya selingkuhan. Yang kedua, penulis dibingungkan oleh sikap tidak menentu antara diinginkan sebagai pacar atau diinginkan sebagai teman oleh seorang laki-laki yang mengharuskannya kehilangan salah seorang sahabat terbaik. Dengan dada berusaha dibusungkan dan hati ditegarkan, penulis mengubur semua kenangan getir tersebut dan menyongsong 2008 dengan satu harapan bahwa suatu hari dia bertemu dengan seorang yang benar-benar tulis ia cintai dan mencintainya.

Harapannya terkabul. Di pertengahan Februari penulis bertemu dengan seseorang yang kemudian pada pertengahan April memintanya menjadi pacar. Penulis pun berucap, "I do" dan bersama kami melalui hari-hari penuh romantisme. Beberapa kali pernah terjadi miskomuinikasi dan kesalahpahaman, namun toh hal tersebut tidak membuat cinta kami goyah, bahkan sebaliknya. Sesuatu yang diagungkan penulis dalam sebuah komitmen (kejujuran dan tidak mentolelir perselingkuhan) dapat dijalankan dengan kesungguhan dan pada saat itulah penulis sadar bahwa laki-laki inilah yang ia cari selama ini. Ketika kemudian pada akhir Oktober sang pacar mengungkapkan keinginannya untuk segera sembuh dan menikahi seorang perempuan, dengan hati hancur dan tentu saja mata bersimbah air mata, penulis mendukung keputusan mulia tersebut.

And here it is, menjelang akhir 2008 penulis kembali jomblo dan dengan hati berdebar bertanya, "Akankah malam pergantian tahun akan dilewatinya dengan kesendirian?" Ternyata tidak. Sang mantan tercinta menginginkan kebersamaan dengannya pada malam pergantian tahun. Malam itu penulis begitu bahagia. Ketika ditatapnya mata sang mantan dalam-dalam, ia pun berterima kasih dalam hati. Dalam imajinasinya dia membayangkan akan melewati malam pergantian tahun dengan orang yang ia cintai. Walaupun sekarang kita tidak terikat dalam sebuah komitmen, namun cinta itu masih penulis rasakan dan karenanya penulis merasa beruntung pernah bersama orang yang pernah menjunjung tinggi arti sebuah komitmen dengan sesungguhnya. Malam pergantian tahun pun dilalui dengan sebuh senyum dan kedamaian hati karena dilewati bersama dengan orang tercinta.

And 2009 has come. I couldn't help but wonder, will i met someone spesial these year? Will I fall in love and got lucky, again? Will my prince come along and save me from my self? All I can do now are keep trying, hoping, and wishing for someone special these year. Wish me luck.